Gelandangan, Perjumpaan dan Pesan Ajaib Saini KM

0
90

Oleh Budi Sabarudin

Sejak tahun 1990-an, saya “menggelandang” di Kampus ASTI  Bandung. Kapan saja bisa keluar masuk kampus.  Luntang-lantung. Tidak kuliah. Nongkrong di kantin atau di bangku-bangku beton halaman kampus.

Saya bisa berjam-jam di kampus itu. Nguping obrolan-obrolan  mahasiswa. Obrolan yang sering saya dengar adalah teater, kemudian tari dan karawitan.  Sesekali saya ngobrol juga dengan beberapa dosennya. Tapi sebagai pendengar setia saja.

Di kampus juga saya melihat-lihat mahasiswa latihan teater seperti olah tubuh dan bercakap-cakap dengan pohon, menggarap teater, nonton resital dan ujian akhir mahasiswa, nonton pementasan seniman-seniman dari kota lain dan luar negeri, dan ikut-ikutan diskusi dan seminar seni pertunjukan dan kebudayaan.

Tiga tahunan saya menggelandang di kampus. Lama juga. Tapi betul-betul tak terasa. Singkat sekali rasanya. Saya kemudian coba-coba menulis semacam laporan pertunjukan teater.

Salah satunya Longser Antar Pulau (LAP), lakon “Obsesi Triple-X” (PR Minggu, 12 Desember 1993),  lalu monolog “Racun Tembakau” karya Anton Chekov yang diperankan aktor Asep Gaus FM dengan sangat baik (PR Minggu, 6 Februari 1994).

Saya menulis lagi. Kali ini pertunjukan “Ciung Wanara” atau “Sang Manarah” karya seniman besar Saini KM. Pertunjukan garapan sutradara bertangan dingin Rahman Sabur ini begitu mengesankan (PR Minggu, 22 Mei 1994).

Pementasan LAP yang lain saya tulis juga,  “Resiko” (PR Minggu, 3 Juli 1994), Kuis Konglomerat (Bandung Pos, 7 Septermber 1994) dan Interview Alladin (Bandung Pos, Juni 1995). Garapan LAP sangat menghibur dan punya penonton fanatik saat itu.

Saya menulis lagi karya Rahman Sabur. Kali ini teater tubuh diperankan sangat dahsyat aktor Tony Broer. Teater yang menakjubkan, menggemparkan dan fenomenal ini diambil dari lakon “Kaspar” karya Peter Handke (1942) (Bandung Pos, 21 September 1994).

Pementasan “Rumah untuk Orang Miskin” karya George Bernard Shaw (1856-1950) sempat saya tulis. Salah satu aktornya Harya Prabu Hadikoesoemo yang bermain tenang. Pertunjukan yang disutradarai Tatang Abdullah ini begitu cermat (PR Minggu, Juli 1994).

Pementasan lakon “Malam Terakhir” karya sastrawan Jepang Yukio Mishima dimuat di PR Minggu, April 1994. Dua pemainnya, aktor Heriyanto dan aktirs Sri Mulyani sukses memainkan karakter tokoh masing-masing.

Ada pula pertunjukan lakon “Identitas” karya Euripides. Aktornya Tatang Macan bermain bagus dan begitu mantap (PR Minggu, 5 November 1995). Karya saduran Eka D Sitorus itu dipanggungkan Teater Alibi dan disutradarai Irwan ini keluar dari pakem teater Yunani. Namun tetap menarik ditonton.

Lalu, menulis pertunjukan “Pagi Bening” karya Serafin dan Joaquin Alvaros Quintaro. Salah satu aktrisnya Yanie. Pertunjukan ini disutradarai aktris berbakat Diah Rosdiana dengan begitu apik dan detil (Bandung Pos, 17 Mei 1995).

Saya pun menulis  pentas “Hanya Satu Kali” terjemahan Sitor Situmorang. Sutradara senior Eka Gandara WK melibatkan aktor-aktor berbakat, Uep Murungkut dan Deden Rengga (Bandung Pos, 3 Juli 1996).

Pertunjukan lainnya “Babi Babu” karya Jean Genet  digarap dengan penuh eneri oleh On Teater, kelompok teater perempuan di kampus ASTI yang  kemudian berubah menjadi STSI (PR Minggu, 18 September 1994).

Tulisan lainnya yang dimuat di PR Minggu adalah “Inspektur Jendral”. Saat itu Pak Suyatna Anirun sebagai redaktur budaya di koran itu. Pada saat itu tidak mudah  tulisan teater bisa dimuat. Pak Suyatna sangat dan sangat selektif memilih tulisan.

Saya sangat beruntung bisa menggelandang di kampus STSI. Sepengalaman saya menonton, pertunjukan-pertunjukan teater garapan mahasiswa, termasuk dosennya juga luar biasa, memiliki standar estetika dan akademis yang tinggi dan terjaga.  Pertunjukan berkualitas yang mencerahkan batin dan pikirian.

Para aktor dan aktris serta para penata artistik di kampus STSI umumnya sangat berbakat dan memiliki intelektual yang kuat. Tak heran ada alumninya yang menjadi seniman hebat, menjadi dosen dan banyak pula bekerja di pemerintahan, televisi, dan industri kreatif.

Apa yang saya tulis di koran-koran itu hasil menggelandang di kampus ASTI/STSI beberapa tahun. Namun di balik itu ada momentum yang sangat penting dan ada sosok yang berpengaruh kuat hingga saya memiliki minat menulis pertunjukan teater.
Begini. Suatu kali, di halaman kampus, saya ngobrol-ngobrol dengan adik saya, Ferry Curtis yang saat itu memang kuliah di Jurusan Teater. Tiba-tiba Pak Saini KM muncul dari arah belakang kami.

Hebatnya beliau menyapa lebih dulu dengan senyumnya yang sangat khas. Kami membungkukkan badan sebagai tanda menghormati beliau.  Kami berdua sama-sama kagum pada Pak Saini KM.  Tidak hanya pada karya-karyanya, tapi kepribadiannya juga.

Pak Saini kemudian bergabung bersama kami. Ngobrol. Perasaan saya campur aduk. Deg-degan. Baru kali ini ngobrol dengan Ketua STSI Bandung, seniman hebat, besar dan produktif serta santunnya luar biasa. Kesempatan langka sekali.

Di akhir perjumpaan, dengan suara pelan, Pak Saini bicara kepada saya, “Sabarudin, teruslah menulis teater.”  Menurutnya, mengapa kampus seni membutuhkan betul penulis, karena satu diantaranya, untuk mendidik para penonton seni pertunjukan teater.

Seni pertunjukan dikatakan Pak Saini sangat membutuhkan penonton. Namun penonton yang dibutuhkan, adalah yang terdidik seleranya seninya. Salah satunya bisa dibangun penulis-penulis seni pertunjukan.
Namun tugas utama mendidik selera penonton itu lanjut beliau, berada di pundak-pundak seniman.  Mereka harus menciptakan karya-karya seni yang tinggi, bagus dan kuat agar selera seni penontonnya meningkat terus, sehingga penonton teater itu akan menjadi masyarakat yang memiliki keadaban.

Bagi saya kata-kata Pak Saini itu ajaib sekali. Saya menafsirkan percakapan “teruslah menulis teater” itu bisa dilakukan di mana saja.

Karena itu, saya menulis juga pertunjukan teater di IKIP (sekarang UPI), seperti lakon “Umang-Umang” (Bandung Pos, 29 Juni 1994) dan monolog Wawan Sofyan yang mengangkat lakon berbahsa Sunda, “Oknum” karya Hadi AKS (PR Minggu, 24 September 1995).

Ketika saya meninggalkan bandung tahun 1997, lalu bekerja sebagai wartawan di Grup Pikiran Rakyat dan sekarang di Grup Jawa Pos, saya pun sampai saat masih tetap menulis laporan pertunjukan teater. Sebab saya ingat perjumpaan dan pesan yang mendalam dari Pak Saini KM.

“Sabarudin, teruslah menulis teater.”

Pesan ajaib itu diam-diam membius saya. Hatur nuhun, Pak Saini. (***)

Budi Sabarudin adalah Pemerhati Teater, Jurnalis, Pendongeng Keliling Nusantara dan Guru Eskul Mendongeng SMP Hidayaturrohman, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here