Gagasan Saini KM tentang Peran Dramaturg di Indonesia

0
63

Lili Rosidah

Saini KM adalah seorang guru bagi pendidikan seni teater di Indonesia. Setiap pikiran dan ucapannya penuh motivasi untuk mengembangkan seni teater agar dapat berdaya guna di masyarakat. Suatu hari, beliau mengatakan bahwa seniman teater jangan korupsi. Kontan saya kaget. Saya bertanya-tanya dan setengah protes tidak setuju. Beliau mengatakan bahwa para seniman teater bukan warga kelas satu. Jadi, dimata hokum ia harus diperlakkan sama. Jika bangsa ini berusaha keras untuk memberantas korupsi, seniman teater juga harus diadili. Saya jadi bingung. Apa yang bisa dikorupsi dari teater?

Bahkan, untuk mewujudkan sebuah pertunjukan, seringkali seniman teater harus berdarah-darah, (istilah bagi kerja keras penuh perjuangan yang menguras seluruh energi yang dimiliki, baik material maupun immaterial). Kembali dengan tenang namun ekspresif, beliau mengatakan “ coba bayangkan para seniman teater. Mereka berproses paling sedikit tiga bulan lamanya, menghabiskan anggaran jutaan rupiah, main di gedung yang sudah disubsidi oleh pemerintah dari uang rakyat, bahkan sebelum menjadi beberapa telah menempuh pendidikan seni yang juga disubsidi pemerintah dari uang rakyat.

Beliau mengilustrasikan, untuk dapat lulus menjadi sarjana senindengan tepat waktu, setiap mahasiswa disubsidi sebesar dua puluh juta rupiah (data tahun 1997). Saat ini seorang mahasiswa dari masuk sampai lulus mendapat subsidi sekitar 90 juta rupiah. Jumlah tersebut jika jika mahasiswa bersangkutan lulus tepat waktu. Namun, jika lebih lama lulusnya alias tidak lulus tepat waktu, maka akan lebih bear lagi subsidi yang dikelurkan pemerintah untuk mahasiswa tersebut. Coba bayangkan, setelah mendapat subsidi sekian besar kemudian menjadi seniman, membuat karya dengan menggunakan fasilitas yang juga dari subsidi pemerintah, yang tentu sja merupakan uang rakyat, kemudian pertunjukannya hanya ditonton segelintir penonton yang merupakan bagian dari komunitasnya (bukan masyarakat luas) dengan lama pertunjukan antara satu sampai tiga hari. “Apakah itu bukan koripsi uang rakyat?” pertanyaan tersebut membuat saya termenung untuk waktu yang lama.

Korupsi ! kata-kata it uterus menari-nari di benak saya. Kata-kata seram yang tidak asing itu mulai menakutkan saya. Awalnya sebagai orang yang terlibat dalam dunia pendidikan di Indonesia, saya beranggapan jika disbanding dengan profesi lain – sebut saja pegawai Bea Cukai, Agraria, Pertamina, Telkom dan lain-lain – tentu saja kami akan terbebas dari korupsi karena tak ada yang dapat dikorupsi. Namun setelah pembicaraan pada sabtu pagi seusai mengajar bersama, saya jadi berpikiran lain kata korupsi menjadi kaya yang punya makna khusus.

Benarkah seniman teater punya kecenderungan korupsi? Setiap pameran seni rupa (lukis) yang berhasil, dibekangnya ada seorang curator yang mengetahui dengan jelas perihal seluk beluk lukisan tersebut, seperti: latar belakang senimannya, latar belakang karyanya, para pengunjung pameran, calon pembeli, tempat yang tepat untk mengadakan pameran, lama waktu pameran berlangsung, bagaimana acara pembukannya, siapa yang akan diundang, siapa yang harus membuka , media massa mana yang akan hadir dan meliput, jumlah katalog yang harus dicetak, kapan waktu tepat untuk mengadakan pameran dan lain sebagainya. Pendeknya, semua hal yang berhubungan dengan pameran lukisan dipahami betul oleh curator. Sejajar dengan imi , jika seni rupa memiliki seorang curator maka seni teaterhendaknya memiliki seorang dramaturg.

Kata dramaturg pertama kali dikenalkan oleh Gotthold Efhrain Lessing (1972-1981). Lessing lahir sebagai dramaturg pertama. Pada waktu itu keadaan seni teater di Hamburg Jerman (tempat kelahirannya) tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakannya. Teater ketika itu dianggap tidak lebih sebagai hiburan murahan sehingga tidak mencapai martabat seni.

Semangat yang sama lebih dulu dikemukakan oleh Schiller (1759-1805) yang juga menyatakan bahwa teater harus menjadi lembaga moral. Pada tahun 1967, Lessing diangkat menjadi “Dramaturg” di sebuah gedung teater di Hamburg. Ia mendapat kesempatan untuk melaksanakan gagasan-gagasannya tentang bagaiman seharusnya seni teater diperlakukan.

Lessing mulai menyiapkan wacana bagi pementasan-pementasan di Hamburg. Catatan-catatan kritisnya itu kemudian dikumpulkan dalam bukunya yang terkenal yaitu Dramaturg Hamburg. Istilah Dramaturg di Indonesia memang tidak sepopuler kurator. Itu sebabnya profesi dramaturg belum menjadi bagian yang mapan dan tersendiri seperti kurator. Dalam seni teater dramaturg tidak serta merta menjadi sebuah profesi tersendiri, akan tetapi poin kerja seorang dramaturg beberapa telah mulai dikerjakan, aoakahitu oleh stradara, pimpinan produksi, atau oleh produsen (penyandang dana) teater. Namun, jika para Kurator mencantumkan profesinya dalam kartu namanya, tidak demikian dengan Dramaturg. Keprihatinan inilah yang membuat Saini KM tanpa lelah berupaya mengenalkan dramaturg sebagai sebuah profesi penting dalam seni teater. Kita ketahui Indonesia adalah sebuah Negara yang multi-etnik, masing-masing daerah mempunyai kebudayaannya sendiri. Adalah suatu yang mustahil untuk menjadikan pertunjukan teater, khususnya yang berbasis budaya lokal, dapat diterima disemua daerah tanpa menerapkan sistim kerja dramaturg. Pilihannya hanya dua: cukup main didaerahnya saja dengan ditonton oleh penonton yang terbatas, waktu pementasan hanya beberapa hari, dan menyandang julukan korupsi; atau ditonton oleh masyarakat luas dengan jumlah penonton yang banyak dan waktu pementasan yang panjang sehingga lamanya proses menjadi seimbang dengan lamanya pertujukan itu dipentaskan. Dengan harapan, pertunjukan yang dipentaskan, sebagai pertunjukan yang memberi tuntunan bagi apresiatornya. Semakin banyak yang mengapresiasi pertunjukan tersebut, maka semakin besar kemungkinan terjadinya peristiwa teater, yang berdampak pada upaya”pencerahan” masyarakat secara luas. Banyaknya apresiator yang mengapresiasi pertunjukan teater, membebaskan seniman teater dari label korupsi.

Kalau pemimpin produksi membatasi diri pada wilayah di luar wilayah seninya, dramaturg justru menjadi penyeimbang antara pencipta, sutradara dan penonton, dengan harapan pertunjukan yang diusung mencapai nilai bersama antara seniman dan penonton. Dalam bukunya yang berjudul Peristiwa Teater  Saini KM membuat analogi bahwa hubungan antara seniman dan penonton sebagai hubungan persetubuhan, dimana seniman teater (termasuk sutradara, pemain, penata artistic, dan sebagainya) sebagai pria, sedangkan penonton (dengan tidak melihat jumlah) sebagai wanita. Persetubuhan akan mencapai orgasme jika ada ketertarikan dan kerja sama antara pria dan wanita. Jika hanya pria saja yang tertarik dan memaksakan kehendak, apalagi dengan kekerasan, maka yang terjadi adalah perkosaan. Jika si pria tidak memperdulikan wanitanya, dramawan, sutradara, pemeran dan penata artistic secara bersama-sama berasyik-masyuk sendiri dengan kegiatan mereka di pentas tanpa memperdulikan penonton, peristiwa ini dapat disebut sebagai “masturbasi”

Hubungan antara seniman dan penonton idealnya berada pada posisi keseimbangan. Teori keseimbangan menurut POX Heider, digambarkan sebagai hubungan segitiga triadis. Heider menyatakan bahwa hubungan yang seimbang akan menimbulkan reaksi yang menyenangkan sedangkan hubungan yang tidak seimbang akan menimbulkan disonasi (sesuatu yang tidak cocok) dan menimbulkan ketidaknyamannan.

Agar terjadi keseimbangan, seniman harus menyukai dan memahami penonton, begitu juga sebaliknya, sehingga hubungan antara seniman dan penonton menjadi hubungan yang seimbang, saling menyukai, dan saling menghargai.

Lantas apa yang bisa dilakukan oleh seorang dramaturg dengan beban berat yang harus dipikulnya yaitu; menciptakan hubungan yang seimbang antara seniman, penonton, dan karya seni? Itulah yang menjadi sebab sebuah gedung kesenianharus memiliki seorang dramaturg. Dramaturg akan menjadi penyeimbang hubungan antara seniman, apresiator dan karya seni. Fungsi dan tugas dramaturg mencakup: programmer, menengahi diskusi antara penulis naskah dengan sutradara, dan sebagai public relation (PR).

Sebagai Programmer, fungsi dramaturg adalah membuat program, baik jangka pendek satu sampai tiga tahun, maupun jangka panjang antara tiga tahun sampai lima tahun ke depan.bahkan, bisa jadi program itu sudah dibuat untuk lebih dari lima tahun ke depan garis besarnya, sementara detailnya dikerjakan per tahun.

Dengan demikian seorang dramaturg telah mengetahui secara gambling aktifitas apa saja yang akan mengisi acara pada gedung kesenian. Misalnya tempat yang digunakan adalah Gedung kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung. Seorang dramaturg akan membuat program bagi gedung Sunan Ambu, dengan memperhitungkan berbagai hal berikut; karena gedung Sunan Ambu merupakan milik ISBI Bandung, sebuah Institut yang memiliki tiga fakultas, tentu gedung itu dalam satu tahun yang utama diisi program materi ujian mahasiswa, baik ujian akhir maupun ujian tengah semester, dari ketiga fakultas, ujian mahasiswa itu diupayakan dapat dipublikasikan ke masyarakat luas sehingga dapat berkomunikasi dengan penonton yang lebih luas, bukan hanya terbatas pada pengajar yang menjadi penguji, atau sesame mahasiswa saja.

Tentu saja dramaturg harus mempertimbangkan terlebih dahulu penonton mana yang tepat menyaksikan ujian dengan repertoar yang beraneka ragam.

Selain diisi materi ujian, untuk menghidupkan aktivitas gedung pertunjukan. Sisa waktu yang tersedia diisi juga dengan materi kesenian yang lainnya. Materi kesenia itu bisa yang bersifat klasik, kontemporer, eksperimental dan sebagainya. Bahkan dramaturg yang baik dapat membuat perkiraan kelompok kesenian mana yang walaupun masih baru namun kedepannya akan banyak disukai leh apresiatornya.serta kelompok seniman, yang walaupun peminan apresiatornya sedikit, namun kelompoktersebut penting untuk dipergelarkan karena merupakan kreativitas baru yang penuh dedikasi dan pencarian bentuk kesenian yang inovatif.

Seorang dramaturg juga harus memiliki semangat untuk bisa melestarikan dan mengembangkan kesenian yang keberadaannya hamper punah namun sesungguhnya memiliki nilai seni yang tinggi dan memberikan pencerahan pada apresiatornya. Yang menarik dari seorang dramaturg adalah bagaimana setiap aktivitas kesenia dengan berbagai bentuk, aliran atau gaya mendapat perhatian dan dukungan yang seimbang. Dampak dari setiap aktivitas yang dilakukan oleh dramaturg menjadikan gedung kesenian yang dikelolanyahidup dan berperan aktif dlam memberikan ruang bagi masyarakat luas untuk berapresiasi dan belajar kesenian melalui berbagai pertunjukan yang disuguhkan.

Untuk dapat mewujudkan hal itu pertama-tama seorang dramaturg harus melakukan riset dan diagnose, diawali dengan mendata jenis kesenian yang ada, baik tradisi, modern, maupun eksperimental. Ia juga perlu mendata kesenian yang berada di luar Indonesia, yang memungkinkan untuk ditindaklanjuti dengan kerjasama.

Seorang dramaturg harus merencanakan kerja sama dengan grup kesenia daerah setempat dan daerah lainnyayang ada di Indonesia dan lebih luas lagi menjalin kerja sama dengan berbagai Negara dari manca Negara.

Dramaturg juga berperan dalam memutuskan siapa saja dan grup mana saja yang akan terlibat, siapa bakal calon apresiatornya, dan siapa yang dapat menjadi penyandang dananya. Seorang dramaturg. Seorang dramaturg harus mengenal, memahami dan menganalisa kondisi fisik gedung beserta seluruh fasilitas yang tersedia di gedung yang dikelolanya.

Setelah membuat program dan mempertimbangkan berbagai hal penting yang harus menjadi dasar pengambilan setiap keputusan, seorang dramaturg juga harus dapat menengahi diskusi antara penulis naskah, dengan sutradara (penggarap) atau bahkan dengan produset (penyantun dana). Jika pada proses produksi terjadi perbedaan pendapat antara ketiganya. Tugas dramaturglah untuk mencari jalan tengah yang menguntungkan semua pihak. Setelah hal itu tercapai dramaturg bertugas sebagai public relation mempersiapkan publikasi kepada setiap pihak terkait.

Untuk menjaring penonton, dramaturg mengadakan diskusi dengan organisasi dan badan usaha yang berhubungan dengan calon penonton. Untuk itu perlu disiapkan materi apa yang akan didiskusikan dan siapa yang akan berbicara pada diskusi yang akan diselenggarakannya.

Pemilihan siapa yang akan berbicara, tergantung pada konsep yang dibuat dramaturg dan pertimbangan yang dirasa perlu untuk kepentingan publikasi bagi pertunjukan yang akan dipergelarkan. Dramaturg juga menbuat perencanaan untuk konferensi pers apa bila hal itu dirasa penting untuk diselenggarakan.

Dalam konferensi pers tentu saja dramaturg lah yang akan membuat draf dari materi yang akan digunakan pada saat konferensi pers: siapa saja yang akan diundang, siapa yang akan berbicara, dimana konferensi per situ akan dilakukan dan seterusnya.

Dramaturg adalah seorang yang menjalin kerja sama (kemitraan) dengan berbagai pihak: seniman, pemerintah, wartawan, politikus, pelajar dan lain sebagainya, yang merupakan stakeholder dari setiap aktivitas yang dikerjakan.

Semua kerja dramaturg yang begitu banyak tentu tidak hanya dilakukan oleh seorang saja, dramaturg merupakan hasil kerja sebuah team. Team yang terlibat dalam kerja dramaturg bisa terdiri dari berbagai profesi: budayawan, seniman, sejarahwan ekonom, disain grafis, dan lain sebagainya.

Lesssing menyebut dramaturg sebagai seni menghilang (Lessing dalam Saini KM, 2000) karena semua hasil kerjanya tidak tampak sebagai hasil kerja dramaturg. Hasil kerja dramaturg telah menyatu, meresap dan bersenyawa dalam gegap gempita sebuah pertunjukan.

Saat itulah tercipta sebuah peristiwa pertunjukan yang berlangsung antara seniman, apresiator dan karya seni yang dibawakannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here