Religi Indonesia dalam Tiga Lakon Babad Saini KM

0
76

Retno Dwimarwati

Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung

Abstrak

Saini KM dikenal sebagai penulis yang berkiprah dalam pemikiran kebudayaan dan edukasi.  Ia menulis puisi, novel, naskah drama, essai, dan buku. Tiga naskah Babad yang dipilih adalah Sang Prabu, Ken Arok, dan Syekh Siti Jenar. Ketiganya bercerita tentang mitos berdasarkan sejarah yang diinterpretasi oleh pengarang secara menarik. Kronologi perubahan agama yang ada di Indonesia menjadi focus bagaimana Saini KM mempelajari berbagai agama yang hidup di Indonesia.

Sang Prabu (1981) berkisah tentang perjalanan Raja Pajajaran yang melanggar kesusilaan dan akhirnya berbuah kesengsaraan bagi anak cucunya, yakni Dayang Sumbi dan Sangkuriang; Ken Arok (1990) bercerita tentang kesombongan Kertajaya (Raja Kediri) yang menganggap  kaum Brahmana hidup seenaknya sementara ksatria bekerja keras membangun kerajaan dan rakyatnya.; Syekh Siti Jenar (1986) mengajarkan Islam dengan cara yang berbeda pada masyarakat yang baru mengenal Islam. Hal ini dianggap salah oleh para Sunan (Wali Sanga) meskipun hal tersebut terjadi karena rekayasa politik yang dibuat oleh Pangeran Darmacaraka.

Kajian Budaya dan Analisis Sastra Drama dilakukan untuk melihat bagaimana Saini KM memahami berbagai ajaran agama yang ada di Indonesia, mulai dari Agama Asli, Hindu-Budha, dan Islam pada zamannya. Secara kronologis naskah ini memperlihatkan cara pandang orang Indonesia terhadap agamanya. Masyarakat Indonesia menyerap ajaran agama baru sesuai dengan keyakinan mereka sebelumnya.

I

Saini KM menulis sekitar 30 judul Naskah drama dengan beberapa kali mendapat berbagai hadiah, baik di tingkat nasional maupun Asean. Ia dikenal sebagai penulis yang berkiprah dalam pemikiran kebudayaan dan edukasi, baik  dalam bentuk penulisan puisi, novel, naskah drama, essai, maupun buku. Saini KM sangat mengutamakan kemurnian, kejujuran, dan keaslian. Hal ini menjadi fokus hidupnya, karenanya ia sangat peka terhadap sesuatu yang bersih. Gagasan-gagasannya (das sein) selalu mengacu pada das sollen, yang sebenarnya ada pada manusia. Ia mengemukakan gagasannya dengan menunjukkan kenyataan yang terjadi (Abriono, 2008: 15). Dalam penulisan drama Karya yang menarik adalah berisi tentang realitas social.

Secara umum karya Saini dalam naskah yang bercerita tentang mitos lebih memposisikannya sebagai sebuah symbol. Hal tersebut terdapat pada naskah berbentuk Babad. Sumardjo mengatakan, “Saini menulis lakon mitologis bukan bermaksud mendramatisasi mitos tersebut, tetapi menggunakan symbol lama dalam bentuk symbol baru/modern” (dalam Abriono, 2008: 17). Setiap naskah yang berasal dari cerita mitos diinterpretasi secara rasional hingga mudah dicerna oleh masyarakat sekarang. Seperti tiga naskah yang dipilih dalam kajian ini. Hal yang menarik dalam naskah Saini tokoh yang dipilih adalah tokoh kontroversial sehingga irama tragis terjadi pada tokoh yang secara nyata melakukan kesalahan, seperti Raja Pajajaran dalam Sang Prabu, Kertajaya dan Ken Arok pada Naskah Ken Arok, dan Syekh Siti Jenar pada Naskah Syekh Siti Jenar. Situasi berbeda dapat terjadi pada tokoh protagonist sehingga penyelesaian dapat berupa penyadaran maupun kematian.

Naskah Sang Prabu bercerita tentang Raja Pajajaran yang melanggar tapanya dengan bermain asmara dengan penari ronggeng sehingga di kemudian hari ketika ia diminta pertanggungjawaban oleh pangeran yang ambisius ia tak dapat berdalih. Bahkan melakukan kesalahan berikutnya dengan mempermainkan kewenangan raja dengan mengusir anak kandungnya maka kesalahan menjadi berlipat dan mengakibatkan kesengsaraan pada anak dan cucunya (Dayang Sumbi dan Sangkuriang); Dalam kisah Ken Arok, Kertajaya sebagai Raja Kediri dengan kesombongannya menganggap bahwa kaum Brahmana hidup seenaknya sedang kaum Ksatria harus bekerja keras menata dan membangun Negara untuk kemakmuran rakyat. Penghinaan ini menyebabkan Kaum Brahmana bersiasat dengan mengambil orang jahat (Ken Arok) untuk membalas dendam. Akhirnya kekacauan terjadi ketika tatanan kosmos dirusak maka hancurlah seluruh kehidupan dan masyarakat lah yang menjadi korban. Kesombongan, kesewenang-wenangan, tindakan di luar  batas, dan tidak sesuai dengan aturan agama akan menyebabkan kehancuran pada diri sendiri; Sedangkan Syekh Siti Jenar bercerita tentang kekuatan manusia mengaplikasikan cahaya Ilahi secara bersahaja dengan mengejawantahkan sifat Tuhan yang Rahman dan Rahim, akhirnya tidak dapat diterima karena kekuatan politik yang  mampu memutarbalikkan fakta. Politisasi digunakan dengan menganggap kondisi masyarakat yang belum siap menerima paham ajaran agama (sufi) yang lebih tinggi. Hal ini menjadikan Syekh Siti Jenar dianggap bersalah dan harus dihukum mati.

Ketiga naskah tersebut memiliki kronologi agama yang berbeda sehingga Saini KM sebagai penulis harus mampu mempelajari tiap ajaran agama secara fasih dalam mengimplementasikan kekuatan tokoh yang hidup dalam kurun agama tersebut. Sang Prabu berisi tentang ajaran agama Asli (Sunda lama) yang mengajarkan keyakinan dan etika masyarakat berdasarkan konsep keselarasan dengan alam dan mengikuti aturan Hyang Widi; Ken Arok pada kerajaan Kediri dan Sighasari mengajarkan Hinduisme dan Budhisme yang dikenal pada masa kerajaan Hindu di Indonesia; Sedangkan Syekh Siti Jenar mengajarkan tentang paham agama Islam yang dibawa oleh Para Wali (Wali Sanga). Ketiga kurun yang dipilih oleh Saini KM adalah kurun yang menarik meskipun ada dalam legenda, mitos, atau sejarah yang dikenal masyarakat Indonesia namun kebenarannya masih memungkinkan multitafsir. Oleh karena itu,  dalam kajian  budaya tentang kehidupan tokoh tersebut memerlukan penelitian yang lebih serius bagaimana akulturasi budaya, penyerapan, dan pemahaman masyarakat dalam pola pikir, pola sikap, dan tingkah laku ketika menjalankan keyakinan tersebut.

II

Ajaran Agama

2.1 Tokoh Kontroversial

Tokoh- tokoh dalam naskah Sang Prabu melakukan kesalahan/dosa yang berakibat pada kehidupan selanjutnya, seperti: Raja Pajajaran melakukan hubungan intim dengan ronggeng di suatu arena/pakalangan yang menyebabkan lahirnya anak perempuan (Dayang Sumbi). Anak tersebut dibuang di depan gerbang kerajaan yang kemudian diangkat anak oleh Sang Prabu; Dayang Sumbi sebagai anak yang menurut dan berbakti pada orang tua, ia menjalani pengasingan ke hutan dengan harapan akan dijemput kembali oleh ayahandanya. Waktu berselang sangat lama   penjemputan tidak kunjung datang. Ia marah dan berkeluh kesah sehingga Emban diusirnya. Ketika totopong/gulungan benang jatuh dan ia malas mengambilnya lalu berucap, “Seandainya ada perempuan mengembalikan golongan benang itu, kuakui sebagai saudara kandung. Seandainya seorang laki-laki kuterima ia sebagai suami” (p. 68). Perkataan itu menyebabkan ia bersuami Tumang yang buruk rupa dan melahirkan Sangkuriang. Setelah Sangkuriang besar, ia membunuh ayahnya (Tumang, p. 77) karena Dayang Sumbi menyembunyikan status tersebut. Sangkuriang kemudian diusir dan setelah dewasa ia menemukan hutan itu dan meminang ibunya. Hal ini menjadi beban tak terperi bagi Dayang Sumbi sehingga ia minta bantuan ayahnya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Ketika Sangkuriang datang mengejarnya Dayang Sumbi menjelaskan bahwa ia ibunya sejati dan lebih baik mati (bunuh diri) daripada harus mengawini anaknya. Melihat itu Sangkuriang pun menyadari kesalahannya dan ia pun bunuh diri (p.103-104). Setelah hasil perbuatan dosa diakui dan selesai maka tatanan kehidupan kembali normal dan Sang Prabu kembali memerintah kerajaan Pajajaran.

Naskah Ken Arok bercerita tentang perampok Ken Arok yang menggemparkan di seluruh Kerajaan Kediri.  Tentara dikirim namun tak berhasil menangkap pimpinan perampok tersebut. Ketika Mpu Pamor dengan tulus memberikan masukan tentang pungutan pajak dan keberpihakan rakyat pada Ken Arok maka Raja Marah dan menyalahkan tugas Kaum Brahmana yang melalaikan dalam mendidik rakyat. Ia menitahkan kaum Brahmana untuk mendidik Ken Arok agar menjadi warga Kediri yang baik. Raja menentang kaum Brahmana jika tidak mampu  mendidik Ken Arok mereka harus menyembah Kertajaya (p. 22). Apakah Kaum Brahmana akan menentangnya? Kertajaya tidak dapat dikalahkan, hanya Batara Guru lah yang dapat mengalahkannya (p. 23). Mpu Pamor karena terpeleset lidah menyebabkan roda sejarah berputar tak terarah. Persoalan ini mengakibatkan ketersinggungan kaum Brahmana dan mereka mengambil keputusan untuk memberikan pelajaran pada Kertajaya yang tersesat (p. 26). Mereka beranggapan kaum Ksatrya menggerogoti kewibawaan kaum Brahmana dan ingin menonjolkan peran mereka sebagai soko guru alam semesta (p.29). Ketika Brahmana bersiasat untuk menjatuhkan Kertanegara jalan yang diambilnya pun salah dengan memilih Ken Arok sebagai media balas dendam (p. 36). Ketika kesalahan dimulai semua berantakan. Ken Arok merajalela dengan membunuh Tunggul Ametung dan Kebo Ijo serta mengangkat diri menjadi Raja Singhasari dan memperistri Ken Dedes. Ia menjadi panglima perang menyerang pasukan Kediri dengan nama Batara Guru. Dengan mendengar nama terebut Kertajaya teringat akan sumpahnya, ketika bawahannya semua gugur maka Kertajaya pun bunuh diri. Delapan belas tahun berikutnya kekacauan merajalela, Anusapati putra Tunggul Ametung yang belajar di pertapaan merasa bahwa ia berbeda dari saudara-saudaranya. Kedatangan teman-temannya dari Desa Batil menguatkan hatinya untuk mencari keadilan (p.98). Ia mengalahkan Ken Arok bukan karena dendam namun menegakkan kebenaran.

Syekh Siti Jenar  memahami ajaran Islam dengan kepasrahan tinggi akan posisi mahluk dan khalik. Cara pandang Tuhan dan Manusia mungkin sangat berbeda menanggapi tentang derita dan malapetaka (p. 4). Ketika manusia menganggap Tuhan seperti manusia. Kau telah memberhalakanNya. Di sana letak kemurtadan. Di sana pula letak penderitaanmu. Manusia harus adil pada Tuhan karena selain derita, manusia pun mendapatkan nikmat hidup dan keindahan. Betapa kecil dan menderita ketika kau bernama Siti Jenar dan tidak bernama Tuhan dan lupa bahwa tiada batas antara kau dan aku, antara aku dan Kau, Antara Kau dan aku. Karena tiada Engkau kecuali aku, Kecuali Engkau, kecuali aku. Lailahaillallah, Lailahaillallah, Lailahaillallah (p. 6). Syeh Siti Jenar menganggap orang yang kegelapan jiwa takut akan api neraka, namun ia melihat jelas neraka jahanam dan surgaloka. Ia tak menginginkan apa-apa karena telah memiliki segalanya. Ia mengormati nabi layaknya kakak adik. Nabi berkata padanya” berjalan lah sendiri, bawalah bekal dariku. Tawakal dan belas kasih”(p. 8). Manusia harus mengandalkan hati nurani karena Tuhan bersemayam di sana. Cara Ilahi bersinar di hatimu adalah menolong orang yang kena musibah. Bantulah mereka meringankan penderitaan. Hiburlah mereka yang kehilangan sanak saudara. Itulah bisik hati nuranimu, itulah perintah Tuhanmu.  Tuhan bertahta di atas singasana akal budimu. Tuhan lebih dekat daripada urat lehermu sendiri (p.16).  Ciri santri Syeh Siti Jenar adalah kelembutan dan kegembiraan di dalam menolong sesama hidup, namun mereka meninggalkan hukum syara (p. 23).

2.2 Paham ajaran agama dalam lakon

2.2.1 Agama Asli.

Kosmologi Sunda mengajarkan tentang kehidupan semesta menganggap bahwa kedudukan  tertinggi adalah tempat bersemayang Hyang Widi (Sunan Ambu, Bujangga, dan Pohaci), dunia tengah berisi manusia dan guriang, dunia bawah berisi siluman; Kehidupan manusia harus taat pada  aturan dewa, menghormati orang tua, bekerja dan bertapa dengan sungguh-sungguh dan pasrah; Sunda mengajarkan Demokratis (menentukan pilihan p.73); Cermin manusia Sunda adalah persamaan kedudukan/Egaliter karena yang membedakan bangsawan dan orang biasa adalah keberanian (p.68); Hati nurani adalah mahligai penghuni kahyangan dalam diri saya [sediri](p. 32).

2.2.2 Paham Hindu-Budha: Kasta, Dharma, Karma,

Tiga Kasta adalah soko guru alam semesta (p. 29); Ksatrya tanpa Brahmana adalah Buta dan Brahmana tanpa ksatrya adalah lemah (p. 32). Tugas kewajiban kaum Kaum Brahmana, Ksatrya, Weisya, atau Sudra, jika dilaksanakan dengan baik maka akan senanglah setiap anggota masyarakat kerajaan (p.41).  Akan tetapi merangkul penjahat yang telah melakukan kejahatan tatayi adalah tidak benar (p. 45).  Kitab Kutaramanwa yang berkenaan dengan titipan (pasal 160) sebagai berikut:

‘Penitipan milik [barang] sebaiknya dilakukan kepada orang yang tinggi wangsanya, baik kelakuannya, tahu akan dharma, setia, kepada katanya, bersih hatinya dan orang kaya. Itulah tempat penitipan harta milik. Barang siapa menerima titipan, jika penitipnya mati tanpa meninggalkan ahli waris yang dititipi tidak perlu mengembalikannya. Jika penerima titipan itu mati, titipa tidak hilang. Anaknya sebaggai ahli waris harus mengembalikan titipan itu kepada penitip. Titipan tidak akan disita oleh raja yang berkuasa”.

Pasal 154, Barang siapa merusak barang titipan, jika terbukti titipan itu dipergunakannya, dipakai, diganti rupa tanpa minta izin penitip, perbuatan itu disebut merampas. Perbuatan itu sama dengan merusak barang titipan dengan sengaja. Semua barang titipan itu harus dikembalikan pada penitip dengan nilai dua lipat… (p. 52-53).

 

Ken Dedes adalah wanita nareswari setiap laki-laki yang menikahinya akan menjadi raja. Pasal 55, 56, 57 tentang Astacorah atau pencurian, “Jika seorang pencuri tertangkap ketika melakukan pencurian, ia dihukum mati; anak istrinya, miliknya dan tanahnya diambil alih oleh raja yang berkuasa. Jika pencuri itu memiliki budak laki-laki atau perempuan, budak-budak itu tidak diambil alih oleh raja tapi dibebaskan dari segala hutangnya dari pencuri yang bersangkutan…(p.55). Membalas kejahatan dengan kebaikan tidaklah berarti membiarkan kejahatan merajalela. Dalam Bhagawad Gita dijelaskan, “lawanlah kejahatan, asal perlawananmu demi pelaksanaan dharma juga, dan bukan demi kepentingan diri sendiri (p. 93). Roda sejarah harus berputar lagi. Roda sejarah yang telah menggelundung tidak terkendali dan menggilas begitu banyak korban telah kita tahan. Sekarang harus diputar lagi ke arah yang benar dan kendali sejarah berada di tangan kita (Ksatrya, p. 102).

Ajaran Budha: Lewat perempuan lah terutama siluman Mara menggoda dan menyesatkan manusia (p.92). Ayahmu meninggal karena perbuatannya sendiri. Dari Kejahatan akan lahir kejahatan. Ayahmu menculik ibumu dari padepokan ketika aku pergi. Pembunuhan terhadapnya adalah hasil perbuatannya (p. 93). Ken Arok pun akan mendapat balasan dari perrbuatannya membunuh ayahmu. Kita tidak berhak membalas kejahatan dengan kejahatan. Hanya kebaikan yang menyudahkan kejahatan ( p. 93). Tujuan yang baik harus dicapai dengan cara yang baik. Kita harus membalas kejahatan dengan keadilan. Dengan adil kepada penjahat berarti kita berbuat baik, bukan hanya pada penjahat itu tapi juga pada semua.

Ajaran Islam: Tidak ada doa dan sembahyang apa pun dapat menghentikan gempa. Hanya ketawakalan; Manusia harus mengandalkan hati nurani karena Tuhan bersemayam di sana (p.16). Tuhan berfirman bahwa manusia akan dicoba dengan berbagai malapetaka agar kita pantas menjadi khalifah di muka bumi. Kita harus mampu menjelmakan sifat-sifat keilahian yang terpendam dalam diri manusia dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sifat pemurah dan belas kasih (p.26).  Akal budi merupakan kebijaksanaan ilahi. Berdasar akal budi mereka memecahkan beragam persoalan dari hari ke hari, mereka harus berrdoa dan bekerja (p.27).  Mereka berdoa untuk mengemban kehormatan sebagai khalifah dan memohon agar tabah mengemban tanggungjawab dan kemuliaan itu. Manusia mengalami pencerahan dengan penyadaran betapa rapuh dirinya dan melalui malapetaka dapat memandang Tuhan secara lebih jelas (p.29). Manusia menerima malapetaka dengan ketawakalan dan cinta kasih (p.36).

III

Saini KM memahami bahwa manusia Sunda secara primordial (Agama Asli) tidak terlepas dari kodrat dan ia harus bertanggungjawab atas posisi yang diterimanya. Rakyat atau bangsawan semua memiliki hak dan kewajiban serta konsekuensi atas hubungannya dengan Tuhan, lingkungan, dirinya, dan manusia lain. Penyelarasan tersebut membuahkan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Apabila manusia melanggarnya maka dosa tersebut sebelum terselesaikan akan menyebabkan kehancuran. Semakin banyak manusia melakukan dosa maka semakin banyak korban berjatuhan, baik untuk dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya.

Paham tentang  Hindu dalam KenArok menetapkan takdir manusia dan konsekuensinya dalam menjalankan dharma. Kasta seseorang tak dapat diubah akan tetapi apabila mereka melakukan kesalahan dalam dharma maka mereka menerima karma atas perbuatannya. Kesadaran reinkarnasi dipahami sebagai ketika Ken Arok menganggap dirinya engan sebutan Batara Guru. Ajaran Budha dipahami bahwa seetiap manusia harus berbuat baik dan jika manusia melakukan kesalahan sebelumnya maka mengakibatkan hal buruk pada takdirnya.

Ajaran Islam Syekh Siti Jenar adalah aplikasi ke-ilahian lewat perbuatan manusia yang penuh kasih sayang (rahman-rahim). Kecerdasan manusia digunakan untuk menyelesaikan persoalan dalam kehidupan agar tercipta rahmatan lil alamin. Posisi antara Tuhan dan manusia dapat lebih jelas untuk menggambarkan kedudukan mahluk dan Khalik.

Ajaran agama dalam tiga Naskah Babad Saini KM adalah ajaran kemanusiaan universal.  Setiap agama mengajarkan pada penghormatan pada setiap posisi secara benar, Manusia menyadari adanya kekuasaan tertinggi.

  • Ketentuan berlaku pada mahluknya
  • Manusia tidak terlepas dari dosa sehingga harus menerima konsekuensi atas perbuatannya
  • Manusia harus menghormati setiap kedudukan sesuai porsinya
  • Manusia harus bertanggung jawab pada diri sendiri dan lingkungannya
  • Melawan kejahatan atas dasar keadilan bukan kepentingan

DAFTAR PUSTAKA

Abriono, Hermawan. 2008. Saini KM dan Karya-karyanya. Bandung: Etnoteater

Arsip Teater, 2016. Syekh Siti Jenar, (Babad Geger Pengging), Bandung: Neo Teater

Saini KM. 1987. Sang Prabu, Sebuah Drama. Jakarta: Balai Pustaka

_________ 1990. Ken Arok, Sebuah Drama. Jakarta: Balai Pustaka

_________1996. Peristiwa Teater. Bandung: Penerbit ITB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here