Berfilsafat Bersama Saini KM

0
71

Oleh : Benny Yohanes

1.

Saya mengenal kata filsafat, sejak kuliah di Jurusan Teater ASTI Bandung. Saya diterima menjadi mahasiswa Jurusan Teater tahun 1981, sebagai angkatan ke 3. Pada waktu tes masuk, Saini KM betindak sebagai penguji tes bakat seni peran. Pada saat giliran saya masuk ruangan tes, Saini KM meminta saya melakukan akting merespon pasien yang punya penyakit kulit parah, yang duduk di samping kursi tunggu. Saya melakukan akting yang diminta. Tidak istimewa, tapi juga tidak berlebihan. Saini KM nampaknya kurang puas dan tidak merasa teryakinkan, lalu menawarkan pada saya apakah mau mengulang akting tersebut. Saya menjawab dengan suara rendah : Tidak. Saini KM tersenyum. Matanya tetap ramah di balik bingkai kacamatanya. Lalu mempersilakan saya ke luar ruangan. Senyum Saini KM, campuran antara kesantunan formal dan keramahan yang terkontrol, adalah bagian dari kepribadiannya yang paling awet dalam kenangan.

Pada kelas perkuliahan, Saini KM memperkenalkan pemikiran Plato (Platon). Filsafat Platon (427-347 SM) berpusat pada “idea” yang merupakan hakikat dari seluruh perwujudan fisik. “Idea” adalah yang sungguh-sungguh benar; sesuatu yang sama sekali tak berubah dan tak fana; sebuah pengada yang senantiasa sama. “Idea” adalah rupa asali, yang abadi dari semua pengada.”Idea” membedakan antara yang berwujud dengan yang hakiki. Yang berwujud adalah pohon, tapi wujud pohon itu ada lalu tiada. Sedang yang hakiki dari sebuah pohon adalah sifat kepohonannya, yang membuatnya menjadi pohon, yang tidak terpengaruh oleh kebinasaan benda, itulah idea sebuah pohon. Idea itulah yang menurut Platon, sepenuhnya nyata dan benar.

Dalam konteks memahami idea itulah, Platon membedakan dua jenis seniman : Pertama, yang membuat sesuatu, seperti pembuat mebel atau ahli bangunan. Kedua, seniman yang membatasi diri pada penggambaran atau tiruan (mimesis), seperti pelukis, pematung dan penyair. Tukang kayu membuat kursi, dan ia berorientasi pada idea sebuah kursi. Tukang kayu mewujudkan derajat pertama dari idea sebuah kursi, dan merealisasikan derajat kebenaran pertama dari idea tersebut. Sedang pelukis, yang melukis kursi, tidak lagi mengamati pada tingkat idea, melainkan hanya pada realitas karya tukang kayu itu. Pelukis yang melakukan mimesis atas sebuah kursi, membuat gambar sebagai derajat kedua. Pelukis hanya menurunkan derajat kebenaran kedua, derajat kebenaran yang lebih jauh dari kebenaran idea.

Meskipun pandangan Platon tentang seni sebagai sebuah mimesis terasa merendahkan kerja seniman, Saini KM memperkuat pandangan tentang idea itu sendiri, sebagai upaya seniman mencapai hakikat yang indah. Hakikat itu harus dicapai melalui pergulatan kontemplatif seniman. Seniman harus mencapai penglihatan visioner, untuk dapat mencapai ke alam idea. Keindahan dunia indrawi, yang dikerjakan seniman, memang hanya pantulan lemah dari keindahan yang abadi, yaitu idea. Tetapi pengalaman keindahan indrawi itu sendiri merupakan jembatan antara alam penampakan  dan alam ide. Seni, meskipun hanya meniru alam penampakan, tetapi seni juga mampu mencapai ‘yang paling tampak’, yang akan mengarahkan kesadaran pada kebenaran yang asali. Platon sendiri masih menghargai keindahan karya seni, yang dibangun oleh tiga prinsip utama, yaitu : Ukuran, Proporsi dan Harmoni. Pandangan estetika klasik tetap memberikan apresiasi pada tiga prinsip utama keindahan yang disetujui Platon.

3.

Saini KM membawa kami pada wilayah drama. Pandangan klasik tentang kekuatan drama, diperoleh dari pemikiran Aristoteles. Aristoteles (384-322), adalah murid Platon yang dikenal keras kepala, tetapi dialah yang pertama kali mengembangkan teori sastra secara sistematis, khususnya tentang drama tragedi.

Aristoteles mengartikan mimesis secara lebih positif. Menurutnya, Idea hanya ada di alam nyata, dan tidak memiliki realitas transendensi apapun. Tidak ada idea tentang bentuk-bentuk yang terlepas dari materi, oleh karena itu, menurut Aristoteles, tidak masuk akal jika alam penampakan, dunia bendawi, dianggap kurang mengada. Seniman, yang mengolah alam penampakan, tertarik kepada yang umum, tetapi yang terungkap dalam kekhususan. Seniman menemukan yang partikular, dalam gejala yang universal. Diantara alam penampakan yang beraneka perwujudannya, seniman menyaring pola-pola yang selalu muncul kembali. Pola-pola yang selalu muncul kembali itulah yang menurut Aristoteteles, adalah yang hakiki. Tujuan karya sastra adalah menemukan yang hakiki ini, karena itulah sastra (yang kontemplatif-selektif) jauh lebih filosofis daripada penulisan sejarah (yang deskriptif-kronologis).

Saini KM memperkenalkan istilah katharsis, sebagai esensi dari seni tragedi. Aristoteles menilai karya seni tidak hanya dari kadar kebenaran yang dikandungnya, melainkan juga efeknya terhadap pengamat. Menurut Aristoteles, tragedi mendatangkan ‘keibaan’ dan ‘ketakutan’, dan dari sana menimbulkan ‘pemurnian’ (katharsis). Saini KM menjelaskan bahwa tugas tragedi, sejalan dengan pemikiran Aristoteles, adalah untuk membangkitkan dalam diri penonton keibaan dan ketakutan. Saini KM memberi gambaran tentang naskah Oedipus karya Sophocles. Plot Oedipus dibangun oleh konsep irama tragis (tragic rhythm) dalam pola : poeima-pathema-mathema, atau yang sejalan dengan konsep : hubris-nemesis-dike. Oedipus adalah karakter tragis yang ideal. Dia jatuh, karena melawan nasib yang sudah digariskan Apollo, namun ia tetap raja yang besar: dia menerima hukuman Dewa dengan kepala tegak. Di sinilah afek-afek yang penting merangsang penonton. Efek katharsis adalah momen ketika penonton dibebaskan dari kelebihan afek (rasa iba dan ketakutan) dan memperoleh pencucian emosi, dengan cara mengatur tekanan afek itu secara tepat.

4.

Pemikiran dasar filsafat dari Plato dan Aristoteles, yang dituturkan Saini KM melalui kelas-kelas kuliah, membuat saya terdorong untuk menjadi sutradara. Motivasi yang terlampau ambisius, karena waktu itu saya hanya mahasiswa jurusan teater semester IV. Pada periode ini, tahun 1988, saya pertama kali menyutradarai lakon “Kisah Perjuangan Suku Naga” karya Rendra, dan kemudian menyutradarai lakon “Amat Jaga” karya Saini KM, yang judulnya saya adaptasi menjadi “Amat Berontak”. Saini KM menonton pertunjukan itu, dan beberapa waktu setelah hari pertunjukan usai, Saini KM berkomentar bahwa pertunjukan yang saya sutradarai itu dinilainya cukup berhasil; terutama karena pada bagian awal saya menampilkan ritus panen sebagai gimmick pertunjukan. Saya menangkap isyarat dari komentar Saini KM : seni teater harus menggunakan bahasa yang dekat dan dikenal publiknya. Itulah inti dari teater yang hidup.

Pada kelas kuliah, Saini KM kemudian memperkenalkan eksistensialisme. Yang pertama kali dikupasnya adalah segmen terpenting dari pemikiran filsuf Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855), filsuf kelahiran Kopenhagen, Denmark, yang dalam paradigma filsafat Barat (Eropa) dikenal sebagai pencetus awal pemikiran tentang eksistensi.

Kierkegaard membedakan kehidupan dalam tiga tahap, yaitu : tahap estetis, tahap etis dan tahap religius. Pada tahap estetis, manusia menghayati kehidupan tanpa merujuk pada yang baik (good) atau yang jahat (evil). Apa yang ia inginkan itulah yang akan ia lakukan. Manusia dikuasai oleh hasrat sesaat, seperti kehidupan petualang nafsu, seorang Don Juan. Pada tahap etis, manusia mulai memperhitungkan dan menggunakan kategori yang baik dan yang jahat, dalam bertindak. Berdasarkan pertimbangan rasio, manusia memenuhi kewajiban dan peranan sosialnya. Manusia memilih, dengan menjadikan yang baik dan yang jahat sebagai kategori utama, yang mendefinisikan eksistensinya. Pada tahap religius, manusia menyadari bahwa pertimbangan baik dan jahat sudah tidak memadai lagi untuk hidupnya. Yang bernilai adalah relasi dengan Yang Ilahi.

Kierkegaard berbicara satu tema paling fundamental dalam eksistensialisme, yakni bahwa manusia dapat memeproleh makna hidupnya hanya melalui komitmen yang tegas dan yang menentukan hidup. Manusia akan menjadi “sungguh mengada” (really exist) jika berupaya mencapai kesatuan menyeluruh dengan Yang Ilahi, sebagai dimensi abadi hiduonya. Inilah yang disebut Kierkegaard sebagai lompatan iman (leap of faith). Dalam situasi ketidakpastian hidup, manusia harus ‘melompat’ ke dalam iman, dan memeluk pilihannya itu dengan penuh hasrat. Melakukan lompatan iman, manusia mengakui bahwa dirinya makhluk yang terbatas, sedangkan Tuhan adalah super-eksistensi yang mutlak. Keberanian memeluk ketidakpastian yang objektif, dengan hasrat yang tak terbatas, itulah yang disebut Kierkegaard sebagai iman. Manusia yang beriman tidak memeluk kebenaran berdasarkan apa yang diketahuinya, melainkan berani melampauinya. Saini KM mengibaratkan keputusan iman ini sebagai ‘melompat ke dalam gelap’. Gelap adalah wilayah religius yang melampaui rasionalitas manusia.

5.

Kelas kuliah mendadak hangat, ketika Saini KM menguraikan filsafat Nietszche. Dua isu yang menggoncang ketenteraman kesadaran ditawarkan. Pertama, tentang kehendak berkuasa (the will to power) dan kedua, warta kematian Tuhan.

Dalam keyakinan Nietzsche, Kehendak (wille) adalah sebuah gerak afeksional. Pertama, kehendak itu melibatkan tubuh manusia, tampil sebagai sesuatu yang mendera, merangsang, menggerakkan tubuh. Kedua, kehendak bukan hanya terdiri dari satu dorongan, melainkan banyak dorongan, termasuk pemikiran. Rasio ada dalam kehendak. Ketiga, kehendak adalah berupa kesatuan, bukan campuran dari berbagai dorongan dan pemikiran. Secara analogi, sebuah kehendak bukan hanya campuran dari unsur sais, kuda dan kereta. Kehendak sebagai kesatuan adalah gerakan yang muncul saat sais menyatukan dan memerintah kuda untuk menggerakkan kereta ke satu arah.

Kehendak adalah hubungan tegang dalam satu subjek. Menurut Nietzsche, dalam diri satu subjek terdapat sekaligus unsur tuan (herren moral) dan unsur budak (herden moral). Dua unsur itu saling bertegangan, berkonflik. Sebuah aku budak atau aku tuan muncul dari proses pertarungan kompleks dalam diri seseorang. Jika pertarungan dari pluralitas ini menyatu dalam sebuah dominasi diri, maka akan muncullah sosok eksistensi sebagai aku tuan. Sebaliknya, jika yang terjadi adalah ketidakmampuan menyatukan diri dari keterserakan dorongan dan pemikiran, maka yang muncul adalah sosok subordinatif aku budak. Dengan demikian, Kehendak Kuasa adalah karakter fundamental untuk Ada (eksistensi).

Warta kedua dari filsafat Nietzsche adalah adalah warta kematian Tuhan. Tuhan, sebagai isi kepercayaan, dilihat Nietzsche sudah mati. Namun Nietzsche tidak mengatakan “aku telah membunuh Tuhan”, melainkan “kitalah yang telah membunuh-Nya”. Dengan mengatakan “kita” Nietzsche bermaksud merefleksikan sejarah zamannya sebagai zaman hilangnya orientasi, dan menguatnya peradaban nihilistik.

Dalam pandangan yang antroposentrik, warta kematian Tuhan dapat dipahami sebagai syarat mutlak bagi hidup manusia. Ketiadaan Tuhan adalah syarat metodologis dan tantangan epsitemik untuk berbicara tentang manusia sebagai manusia sesungguhnya. Manusia hanya bebas manakala Tuhan yang Mahatahu dihilangkan. Supaya manusia makin menjadi manusia, maka ia harus dibebaskan dari penciptanya.

Tetapi dalam pandangan yang lebih humanistik, kematian Tuhan justru adalah kematian manusia juga. Subjek, rasio, rasionalitas, dan kemanusiaan yang selama ini dibicarakan, dalam hubungannya dengan Tuhan, akan ikut dimakamkan bersamaan dengan warta kematian-Nya. Jika Tuhan mati, hukum moral yang transenden tidak ada lagi. Manusia menjadi manusia sebebas-bebasnya; menjadi manusia yang anarkis, hedonis, dan hidup tanpa orientasi teleologis apapun. Pada titik inilah awal kematian manusia, sekaligus menunjukkan selesainya sebuah kemanusiaan. Matinya Tuhan menunjuk pada runtuhnya jaminan absolut, yaitu lenyapnya otoritas Tuhan transendental, yang merupakan sumber pemaknaan dunia dan hidup manusia.

Mendengar warta filsafat Nietzsche yang baru sepenggal ini, kelas kuliah menjadi lebih dinamis. Ada yang merasa memperoleh pembebasan dari kungkungan religius, tetapi ada yang bersikap defensif untuk memproteksi keyakinan, dan menganggap pandangan Nietzsche itu sebagai seloroh filosofis, yang tidak terlampau serieus. Saini KM sendiri memilih sikap yang relatif netral, dan tidak mengarahkan pemikiran ini pada provokasi tertentu.  Beberapa waktu setelah menerima uraian ini, saya menulis naskah drama saya yang pertama, dengan judul “Momok”. Berkisah tentang karakter yang dirasuki ‘kehendak berkuasa’ dan hidup dalam paranoia yang berkepanjangan. Pertunjukannya, tahun 1989, berdurasi hampir 5 jam, dengan hanya 5 pemain. Saini KM bertahan sampai satu setengah jam pertama, dan di akhir pertunjukan, penonton yang tersisa hanya tinggal 2 orang, sepasang suami istri.

6.

Saini KM membawa kami pada era pasca PD II di Eropa, sebagai latar belakang memahami munculnya nihilisme dalam paham eksistensialisme. Perang Dunia ke II telah menghadirkan suasana ketidakpastian, runtuhnya harapan, dan ancaman kekerasan yang meluas. Situasi kehidupan pasca perang ditandai oleh frustrasi, penderitaan dan kehampaan eksistensial (existential void). Pada titik kehampaan inilah, sejumlah pemikir dan filsuf menawarkan bentuk-bentuk pilihan eksistensial (existential choice), baik yang berorientasi pada eksistensialisme religius, maupun eksistensialisme yang ateistik.

Saini KM memberikan penyeimbang yang proporsional, untuk pemikiran Nietzsche yang eksplosif, dan juga cenderung ateistik. Saini KM menyampaikan pandangan tentang filsuf Albert Camus, yang lebih humanistik, meskipun berada dalam jalur pemikiran eksistensialisme juga. Albert Camus terutama dikenal di Indonesia melalui naskah drama “Caligula” dan novel “Sampar”. Tetapi yang lebih diminati oleh Saini KM nampaknya adalah esai Camus tentang Sisyphus.

Sisyphus adalah Raja Corinth. Suatu hari ia melihat seekor elang perkasa, lebih besar dan lebih menyenangkan dari semua jenis elang yang ada. Ia lalu membawa seorang gadis ke pulau yang tidak jauh, dan ternyata si gadis itu adalah putri Dewa Sungai, Asopus. Asopus mencurigai Zeus yang telah menculik putrinya. Asopus mendatangi Sisyphus  dan meminta bantuannya untuk mencari putrinya. Sisyphus berbohong, mengatakan apa yang dilihatnya, dengan mengatakan memang benar Zeus menculik putri Asopus. Dengan demikian, Sisyphus telah membuat Zeus marah. Di Hades, Sisyphus dihukum harus mendorong sebuah batu besar ke puncak bukit, dan ketika batu itu dijatuhkan kembali ke bawah, maka ia harus kembali mendorongnya, dan begitu seterusnya.

Meskipun kisah Sisyphus termasuk dalam mitos-mitos yang kurang penting dalam khasanah mitologi Yunani, tetapi Albert Camus telah menanamkan satu tema eksistensialistik pada kisah Sisyphus. Dalam pandangan Camus, hukuman pada Sisyphus adalah hukuman yang yang paling tidak terperikan, karena berbentuk hukuman yang tanpa akhir. Itulah jenis penderitaan absurd : mendorong batu besar ke bukit, melihatnya kembali batu menggelinding kembali ke bawah, lalu kembali mendorongnya kembali ke bukit; suatu jenis penderitaan tanpa akhir. Inilah juga jenis penderitaan eksistensialistik manusia yang paling tak tertanggungkan.

Tetapi Camus berhasil menafsirkan momen eksistensialistik dalam penderitaan Sisyphus. Saat Sisyphus berhasil mendorong batu ke puncak bukit, demikian Camus, saat Sisyphus melihat batu besar itu kembali menggelinding ke lembah, itulah saat Sisyphus menjadi lebih besar dari batu itu; dia menjadi lebih kuat dari seluruh penderitaannya. Dan ketika dia kembali menuruni lembah dengan tersenyum, kita harus percaya bahwa Sisyphus bahagia ! Dalam filsafat Camus, penderitaan ditafsir sebagai momen kebangkitan eksistensi manusia. Penderitaan mendewasakan manusia.

7.

Saini KM meneruskan kuliahnya, dengan menyoroti ekses dari industrialisasi. Saini KM memperkenalkan pemikiran dari para pemikir dari Sekolah Frankfurt, terutama pemikiran Theodor W. Adorno dan Herbert Marcuse.

Adorno menganalisis budaya dengan menggabungkan pendekatan Marxis dan teori psikoanalisis sehingga akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa “budaya komoditas” (commodity culture) adalah sebentuk penipuan massal yang melahirkan reaksi yang distandarkan dengan tujuan mengafirmasi elit yang sedang berkuasa (status quo). Kondisi budaya industrial didominasi oleh komoditas-komoditas yang diproduksi oleh industri budaya. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa komoditas-komoditas ini, meskipun dari luar tampak demokratis, individualistis, dan beraneka-macam namun sebenarnya mereka bersifat otoriter, konformis, dan teramat standar. Penipuan ini tidak hanya melibatkan ideologi yang disamarkan sedemikian rupa namun juga penstrukturan jiwa manusia menjadi konformis (penyesuaian diri apa adanya). Berlawanan dengan gerak penipuan massal ini, muncullah seni yang kritis yang menurut Adorno, tidak diarahkan untuk memenuhi kepentingan-kepentingan pasar melainkan untuk menantang standar-standar yang berlaku dalam masya­rakat yang sudah terbendakan (akibat budaya komoditas).

Dari pemikiran Adorno, Saini KM menguraikan tentang “kitsch”, yaitu produk ekstensif dari budaya komoditas, yang hanya merupakan reproduksi dari selera pasar. “Kitsch” menandai bangkitnya selera massa , yang selera estetiknya hanya terletak pada kepuasan mengonsumsi, yang dikondisikan oleh apa yang disuguhkan oleh dominasi pasar. Situasi ini membentuk jenis manusia yang disebut oleh Herbert Marcuse sebagai manusia berdimensi tunggal (one dimensional man). Inilah jenis manusia yang telah termassifikasi secara ideologis dan estetis, yang tidak dapat melakukan respon kritis terhadap arus utama budaya (mainstream culture) yang berorientasi pada selera pasar atau “kitsch”. Dalam konteks ini, Saini KM menyinggung pemikiran Ortega Y. Gasset, tentang “revolusi massa” (revolt of the masses). Dalam pandangan Ortega, massa adalah bentuk reduktif dari individu. Massa telah mengubah manusia menjadi impersonal, tanpa kepribadian, menjadi manusia dengan selera rata-rata, dan tidak lagi memiliki otentisitas. Massa hanya memiliki agresivitas. Saini KM mencemaskan bangkitnya “budaya massa” ini, karena tidak dapat menjadi sumber dan modal budaya untuk melahirkan karya-karya seni yang adiluhung dan auratik.

Dari kesadaran ini, Saini KM menteorikan tentang apa arti seniman dan makna dari kerja penciptaan karya seninya. Dalam “filsafat seni” Saini KM, seniman adalah manusia yang selalu melihat kesenjangan antara das Sein (yang ada), dengan das Sollen (yang seharusnya ada). Pertentangan atau jarak antara realitas dan idealitas inilah yang menjadi motif penciptaan seni. Seniman adalah manusia yang mengalami penderitaan etis. Pertama karena dia tidak puas dengan realitas. Kedua, dia berusaha membawa masyarakat kepada suatu idealitas, yang menjadi visi kosmotik seniman. Tetapi idealitas tak bisa didapat seniman, tanpa dia sendiri menceburkan diri ke dalam realitas yang khaotik tersebut. Seni yang berusaha mencapai das Sollen bukanlah kompensasi atau bentuk pelarian dari realitas. Seni lahir sebagai bentuk pergulatan total atas realitas, sehingga idealitas seni adalah idealitas yang evaluatif-reflektif-inspiratif. Dalam sebuah kalimat sajaknya, Saini KM menulis : “…jangan sebut dirimu penyair, sebelum tintamu menjadi darah…”

8.

Jauh sebelum diskursus tentang postmodernisme ramai menjadi topik diskusi elit intelektual, Saini KM sudah menyadari pentingnya menghadirkan “sang liyan” (the others). Kebudayaan bukan wilayah hegemonik, di mana arus utamanya hanya menghadirkan sosok-sosok protagon, yang diamini sejarah. Kebudayaan adalah wilayah inklusif, tempat pergaulan pikiran dan penyemaian kesadaran dari berbagai mozaik tokoh dan advokasi atas posisi marjinalnya. Itu sebabnya, dalam bidang naskah drama, Saini KM menulis ‘Ken Arok” dan “Syech Siti Jenar”. Sedang dalam sajaknya, terpantul revitalisasi renungan atas pemikiran KH Hasan Mustofa, Ki Ageng Suryo Mentaram, atau penarik becak Sukardal. Esai-esai Saini KM berusaha membangun konstruksi pemikiran yang dialektis, dimana tesis dan kontra-tesis dipertemukan dalam suatu argumen yang fair dan objektif, dan diakhiri dengan suatu sintesis simpulan, dimana perspektif pemikirannya berakhir pada bentuk harmoni dalam kerangka yang solutif.

9.

Tulisan ini bukan testimoni yang objektif. Ini hanya sebuah pemaparan impresif penulisnya, dipilih dari satu segmen pengalaman saat berproses menjalin interaksi dengan sosok Saini KM, sebagai guru. Impresi ini ditulis setelah melewati masa lebih dari 30 tahun, dimana makna aktual pengalaman telah mengalami sejumlah seleksi, berdasarkan kemampuan penulis mengelola memorinya. Pendapat-pendapat yang dihadirkan, tidak mewakili sepenuhnya pandangan Saini KM tentang hal tersebut, karena tulisan ini lebih sebagai aktualisasi atas ingatan penulisnya, bukan representasi dari keluasan pemikiran Saini KM. Setidaknya, melalui tulisan ini dapat digugah kembali sejumput kontribusi pemikiran Saini KM dalam khazanah pemikiran filsafat seni.

10.

80 Tahun Saini KM adalah saat menggulirkan lagi perbendaharaan pengalaman untuk setiap orang yang pernah mengenal Saini KM, baik secara personal, maupun secara profesional. Momen seperti ini bukan selebrasi belaka. Saini KM, sebagai pribadi sederhana, low profile, dan tidak membumbui dirinya dengan efek pesona selebritis, nampaknya tidak mementingkan selebrasi yang sarat puja-puji, sungguhpun beliau berhak memperoleh itu. Kitalah, para murid, kerabat, teman, kolega, sahabat, yang pernah tersentuh oleh kapasitas akademik dan potensi kecendekiawanannya, yang memerlukan peringatan itu, untuk menapak-tilasi rekaman perjalanan masing masing. 80 Tahun Saini KM adalah cara kita memaknai ‘harga’ pengalaman masing-masing, untuk penyerbukan diri.

Bandung, 17 September 2018

Daftar Pustaka

Camus, Albert. 2018. The Rebel. Penerjemah : Decky Juli Z. Dkk. Yogyakarta :Immortal Publishing dan Octopus.

Hamilton, Edith. 2009. Mitologi Yunani. Yogyakarta : Penerbit Logung Pustaka.

Hauskeller,Michael. 2015. Seni-Apa Itu ? Posisi Estetika dari Platon sampai Danto.Sleman : Penerbit Kanisius.

Gassett, Jose Ortega Y. 1930. Revolt of the Masses. Tanpa Kota dan Penerbit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here