Saini KM Tak Pernah Melepas Cintanya

0
79

N. Syamsuddin Ch. Haesy

 

Laki-laki itu terbang dengan penanya

menulis di langit dari satu titik

menyatukan ribuan kata tentang

hidup dan kehidupan

 

Laki-laki itu menyelam dengan penanya

meneguk ilmu kehidupan dari palung

laut yang dalam penuh misteri

lalu ditulisnya dengan tajam dalam kitab-kitab kehidupan

 

Laki-laki itu berjalan dengan penanya

menyapa dunia dan mencatat ayat-ayat kesederhanaan hidup dengan anggun penuh cinta tanpa pamrih di panggung kehidupan

 

Laki-laki itu bersedekah dengan penanya

membagi ilmu pada sesama sebesar genggaman penerimanya tanpa cukai dan materai ikhlas berbagi ilmu

 

Laki-Laki itu bersilatuhrahmi dengan penanya, menggamit alam raya dan seisinya dalam kefanaan hidup

tersenyum menyapa sesama dengan santun dan penuh cinta

 

Laki-laki itu tak pernah melepas penanya

memperjuangkan kebenaran melawan kebatilan

karena murid- murid dan para sahabatnya melanjutkan perjuang dan cita-citanya dengan ribuan pena yang terus mengalirkan ide kemanusian yang dicita-citakannya

 

Laki-laki arif itu

tak pernah melepas

penanya

(Yesmil Anwar, Puisi untuk Saini KM, 2018)

SAINI KM bukan sekadar sastrawan dan akademisi, bukan pula seorang penyair. Dia seorang budayawan yang berkhidmat penuh di dunia yang mempertautkan nalar, naluri, rasa, dan indria. Puisi Yesmil Anwar yang saya kutip di awal tulisan ini, merefleksikan sosok Saini KM.

Saini KM tak bisa dibandingkan dengan siapapun, tapi bisa dipersandingkan dengan Umbu Landu Paranggi dan George Santayana. Umbu sosok yang getun dan tekun mendidik generasi baru untuk masuk ke dalam dunia kreativitas, memberi makna atas kata, ketika terlalu banyak kata berhenti hanya menjadi sabda tanpa makna. Akan halnya George Santayana adalah budayawan yang intens mengulik hal ihwal puisi secara multidimensi, antara lain ihwal “The Elements and Function of Poetry” – salah satu esainya yang dipublikasi Academy of American Poets.

Setidaknya, tiga orang sangat dekat yang mempertautkan saya dengan Saini KM. Ketiga orang itu adalah Endang Caturwati, sahabat sejak masa belia; Almarhumah Yudiastuti Hardjawiganda, mendiang isteri saya; dan, Almarhum Hamid Djabbar – penyair, sahabat saya. Ketiga sosok ini, secara personal, banyak bercerita tentang Saini KM dengan beragam impresi dan ekspresinya.

Endang bercerita tentang sosok Saini KM yang multidimensi dalam satu impresi: budayawan yang luas cakrawalanya. Almarhumah isteri saya melihat Saini KM sebagai talent scout yang memungkinkan banyak orang muda pada masanya, mengenali esensi puisi sebagai medium ekspresi kreatif, sekaligus menghaluskan budi. Almarhum Hamid Djabbar melihatnya sebagai pemandu arah estetik ketika tengah berkembang kegenitan kreatif di dunia sastra dan teater, khasnya, ketika sejumlah penyair dan dramawan sedang getun bersoal tentang format realis, surealis, dan absurd dalam karya sastra dan teater.

Saya tak bersentuhan langsung dengan Saini KM. Posisi saya lebih banyak sebagai penikmat beragam tulisan dan puisi-puisinya. Rubrik Pertemuan Kecil di Harian Pikiran Rakyat yang diasuhnya selama dua dasawarsa (1976 –  1996) di tengah dinamika perubahan era masyarakat agraris ke masyarakat industri, dan masuknya era informasi, menjadi semacam telaga bagi orang-orang muda peminat sastra, yang tengah menemukan pencarian identitas diri, beroleh apa yang mereka perlukan. Bukan apa yang mereka inginkan.

Apa yang dilakukan Saini KM di Harian Pikiran Rakyat, beresonansi dengan beragam rubrik khas di berbagai surat kabar, kala majalah khas tentang sastra dan budaya, seperti Horison, Budaya Jaya, Basis menjadi muara pencapaian karya kreatif mereka. Antara lain, Dialog (Berita Buana, Jakarta), Abrakadabra (Waspada, Medan), dan beberapa rubrik sejenis di Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Kompas (Jakarta), Sinar Harapan (Jakarta), Surabaya Post (Surabaya), Pedoman Rakyat (Makassar), Suara Merdeka (Semarang), Singgalang (Padang), dan lain-lain.

Sejak HB Jassin wafat, Saini KM adalah satu dari sedikit nama yang melekat di benak bagi siapa saja yang sedang melakukan pencarian identitas dan pencapaian karya di dunia sastra, seperti Romo Dick Hartoko. Pada masa itu, selain Rendra, Taufiq Ismail, dan Toto Sudarto Bachtiar, beragam nama bermunculan di jagad sastra Indonesia, seperti Toeti Herati Noerhadi, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Omar Kayam, Gerson Poyk, Kuntowijoyo, Ibrahim Sattah, Abdul Hadi WM, Budi Darma, Darmanto Jatman, Remy Sylado, Leon Agusta, Ikranagara, Sutardji Calzoum Bachri, Sam Abede Pareno, Rachman Arge, Anang Hanani, Sabrot d’Malioboro, Abdullah Mustappa, Husen Mulahela, Djamaluddin, Ridha K. Liamsi, Hamid Djabbar, Emha Ainun Najib, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi, Noorca M. Massardi, Yudhistira Massardi, Adri Darmadji Woko, Sjarifuddin Ach, Sjafrian Arifin, Asril Joni, dan lainnya.

Ketekunan Saini KM menginspirasi seorang guru sastra — yang boleh jadi sebaya – di Purwokerto, Piek Ardiyanto Spuriadi yang juga tekun memandu para penyair di wilayah eks Karesidenan Banyumas, hingga ke Tegal dan Brebes. Pengaruh Pertemuan Kecil, tak hanya sebatas di Jawa Barat, tetapi juga di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Anugerah Sastra yang diterima Saini KM dari Forum Sastra Bandung, adalah penanda historis, Saini seorang yang konsisten memberikan waktunya untuk memandu generasi baru sastra, khasnya puisi. Dia ‘penyelam’ andal untuk menemukan sesuatu yang tak dipikirkan, bahkan mungkin diabaikan orang lain. Untuk menggambarkan hal itu, Yesmil menerjemahkan dalam bait yang indah :

Laki-laki itu menyelam dengan penanya

meneguk ilmu kehidupan dari palung

laut yang dalam penuh misteri

lalu ditulisnya dengan tajam dalam kitab-kitab kehidupan

Puisi dan Beberapa Masalahnya, karya Saini KM (ITB,1993) yang berisi pumpunan tulisan-tulisannya yang mengulas karya penyair muda – masa itu – menjelaskan bagaimana Saini KM dalam konteks kepenyairan Indonesia telah berkontribusi besar. Buku puisinya bertajuk Nyanyian Tanah Air (Mimbar Demokrasi Press, 1969) dihadiahkan Endang Caturwati kepada saya. Almarhumah isteri saya menghadiahkan Rumah Cermin (Sargani dan Co, 1979). Hamid Djabbar memilihkan saya puisi Saini KM bertajuk Surat Bertanggal 17 Agustus 1946, untuk saya bacakan di Pasar Seni Jaya Ancol – Jakarta.

Kami sambut fajar kami dengan cara tersendiri / Tenggorok perunggu serak memaki-maki angkasa hitam / yang gemetar atas bumi karat dan rongsokan / tempat tulang-tulang abad lampau rapuh oleh asin air mata.//

Hari ini pemuda-pemuda mengganti hati mereka dengan baja / Agar bisa tidur berbantal batu dan berselimut angin / Sedang bagi gadis-gadis kami hadiahkan mawar api / Kembang di ujung senapan, bau mesiu alangkah wangi! //

Dengarlah! Lidah-lidah api memanggil di malam sepi, berdetam, berdesing / kami pun keluar, membajak Tanah Air dengan sangkur telanjang //

Menyiramnya dengan darah, memupuknya dengan serpihan daging, / karena langit hanya menghunjamkan api dan besi, api dan besi. (1965)

Puisi ini juga saya bacakan di Taman Ismail Marzuki pada kesempatan lain, dan Malam Pesta Puisi Indonesia di Taman Chairil Anwar – Monas (1995). Pada masa itu (1993 – 1994), bersama Deddy Mizwar dan Boy A. Rivai, juga almarhum Sys NS, kami mengelola program pentas baca puisi bulanan di panggung utama Pasar Seni Ancol dan tempat lain, sebagai ikhtiar agar penyair beroleh pendapatan tetap untuk mengatasi persoalan domestik. Di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) yang saya asuh, saya minta manajer saya, Emil Sanossa (penulis drama Fajar Saddik) menyiapkan dan mengelola program puisi di televisi, dalam bentuk Auvipoem, yang secara teknis dikelola oleh anak-anak muda yang penyair (Viddy AD dan Hasan Bisri BFc)

Ziarah Penyair

Pertemuan kecil saya dengan Saini KM justru di ajang lain, ketika saya sering diskusi dengan Tjetje Hidayat Padmadinata. Kala itu Saini KM menjadi politisi, bila tak keliru, anggota DPRD jawa Barat. Sebagai politisi pun, Saini KM masih mengulik tentang seni, sastra dan keseluruhan konteks budaya. Termasuk ihwal pendidikan, tak terkecuali pendidikan khas seni.

Saya tak sampai melihat Saini KM sebagai ‘pemberontak’ dalam konteks interaksinya dengan realitas masyarakat – negara – bangsa. Tapi, naskah-naskah dramanya, seperti Ben Go Tun dan Restoran Anjing, misalnya, menunjukkan kegelisahannya. Dan ini yang mengusik, ketika dialihmedia dalam bentuk pergelaran, drama itu tetap puitik.

Salah satu dari banyak hal yang saya kagumi dari Saini KM adalah kejeliannya untuk memilih cara memahami puisi, tidak hanya dalam konteks artistika dan estetika yang terwakili oleh kata. Saini memandu para penyair muda, juga memahami dimensi etik, sehingga aspek puitika dalam puisi yang mereka hasilkan menghimpun dalam satu nafas artistika – estetika – etika sebagai medium ekspresi. Panduan ini, seperti tercermin dalam Puisi dan beberapa Masalahnya (1993). Kendati demikian, Saini KM memberi ‘modal’ lain untuk memahami dimensi tentang ‘freedom of expression’ dan ‘freedom of will’ yang dipilih penyair dalam berkarya.

Di situ, sebenarnya Saini KM juga membuka ruang bagi mereka yang memilih jalan lain sebagai kritikus sastra untuk telaten untuk tidak melihat puisi sebagai wacana metric, seperti yang diisyaratkan Santayana. Ruang itu melegakan, sehingga pandangan kritis tentang puisi, tak sebatas hanya bermain dalam polarisasi ‘dalam’ dan ‘dangkal’ semata. Beragam ulasan Saini KM, itu sangat membantu saya untuk mengapresiasi arus puisi mbeling yang ditawarkan Remy Sylado.

Dalam bahasa dan pola ungkap khas Saini KM yang naratif dan cenderung menganggit aspek kognisi penyair dalam menghasilkan karya-karyanya, saya temukan keselarasan pandangannya dengan pandangan Santayana, bahwa materi kata-kata dalam puisi, bisa bervariasi, termasuk kecenderungan sensualita di dalamnya. Artinya, pilihan gaya bahasa dan kata, tak harus harus dibuat sempurna, dan harus dibuat sekadar indah hanya untuk memperoleh format dan bentuk puisi.

Saini KM memandu cara menemukan karakter penyair yang terekspresikan lewat puisi yang tidak hanya melihat keindahan dari objek dan ide-ide, karena simbol-simbol dalam metafora juga memiliki realitas yang masuk akal dari diri mereka sendiri. Dari sudut pandang imagneering, itulah yang yang disebut eufoni yang menarik bagi indria, ketika kita membiarkannya terbuka. Saini KM menuturkannya dengan terang, lewat puisinya bertajuk, Kepada Penyair Muda.

Sebelum tintamu menjadi darah, kata-kata / Akan tetap sebagai bunyi, kebisingan lain / Di tengah hingar bingar dunia: Deru mobil / Guntur meriam dan gunjing murah koran got.//

Kau meniup suling tapi kau sendirilah sulingnya /: Itulah nasibmu. Kepenyairan adalah ziarah / Tanpa peta, pelayaran tanpa bintang / Padahal dunia menawarkan begitu banyak jalan.//

Berhentilah menulis kalau kau tak rela hidupmu / Jadi sajen di candi dewata yang tak dikenal / Menulislah kalau kau yakin sajakmu menjadi sepi / : Keheningan pertama saat roh memandang dirinya//

Saya suka puisi ini. Meminjam perspektif Santayana, pernyataan akhir dalam larik-larik di puisi terakhir puisi itu, memberi arah bagi penyair untuk sungguh menjadi sosoknya yang utuh, dan jalan yang harus dipilih adalah jalan beragam, Dengan jalan itu, penyair menemukan posisinya, yang mungkin berbeda dengan peniti jalan profesi lain.

Santayana mengemukakan, perbedaan seorang penyair dengan kalangan lain adalah martabat dan kemanusiaan dari pikirannya. Mungkin bisa diukur. Bisa jadi juga tidak ada. Demikian pula halnya dengan ‘keluasan wilayah imajinasi’-nya yang bisa jadi tak terukur dengan diameter dunia tempat dia tinggal. Posisi tertinggi penyair, seperti kata Dante, adalah visinya, selalu membentang ke bintang-bintang. Saini KM bertegas-tegas: Kepenyairan adalah ziarah / Tanpa peta, pelayaran tanpa bintang. Karena visinya bisa melampaui bintang itu sendiri, memandu ‘pelayaran’ hidupnya hingga entah bila.

Ketika sampai di larik-larik pada bait terakhir, “Jadi sajen di candi dewata yang tak dikenal / Menulislah kalau kau yakin sajakmu menjadi sepi / : Keheningan pertama saat roh memandang dirinya// – saya teringat pandangan Virgil, penyair tertinggi — kadang-kadang — diremehkan secara tidak adil, (tapi) hal itu menunjukkan kepada kita hal yang sama (dalam bentuk lain), lanskapnya semesta, ihwal mata air suci kebesaran Romawi dalam kesalehan, keteguhan, sebuah kesahajaan.

Dalam konteks Saini KM, saya meyakini, puisi bertajuk Kepada Penyair Muda, itu sebagai pernyataan begawan, yang esensinya tersimpan dalam puisi Yesmil Anwar yang saya kutip di awal tulisan ini : Laki-laki itu bersedekah dengan penanya / membagi ilmu pada sesama sebesar genggaman penerimanya / tanpa cukai dan materai ikhlas berbagi ilmu //. Saini KM bisa mencapai hal itu, karena saya yakini, dia sudah selesai dengan dirinya. Dia sudah merasakan beragam empirisma dan atribusi kehidupan, dan kemudian harus memainkan peran dirinya sebagai seorang kekasih yang boleh dirindukan siapa saja.

Seperti Saini KM sendiri mencumbui ‘kekasih’-nya di puncang kesahajaan, seperti terasakan dalam puisinya bertanuk Di Padang Arafah (1996) :

Pertemuan antara kita, Tuhanku, tak pernah resmi / Pertengkaran paling sengit dan rujuk paling mesra / Biasanya terjadi di antara sajadah batu / Di pinggir kali kecil tempat Kau terima / Kunjungan gembala dan penjaja keliling / Di senja syahdu, saat penyeru-penyeru-Mu berhenti.//

Jalanku kerumahMu hanyalah jalan setapak / Yang kurintis sendiri di dalam sepi, / Dan ruaangMu kumasuki lewat pintu samping / Bukan gerbang raya tempat para jemaah / Berdesak agar dapat menghadap di saf pertama / Hubungan kita, tak pernah resmi.//

Kini malam telah tiba di Padang Arafah / Dan di atas sajadah bumi, bawah mihrab langitMu / Dengan segenap ketulusan kuserahkan / Kegelisahan, pemberontakan dan kerinduanku//

Dalam puisi ini, Saini KM membiarkan refleksi dirinya mengalir begitu saja. Dia membebaskan dirinya dari euphuisme, yang sering dipakai banyak orang ketika bicara dengan “Tuhan” atau dengan “tuhan.” Yang seolah-olah diperlukan. Ketidak-formalan pertemuan dengan “Tuhan” itu, pun membebaskan puisi dari formalitas ritual.

Saini KM, lewat puisi dan pemikirannya, memandu dan terus memandu, sekaligus  membawa kita keluar dari hanya wilayah verbal ke dalam wilayah imajinatif. Sebagai budayawan dia adalah seorang intelektual konsisten memilih jalan keilmuan, dan menulis. Dia bukan kembang api intelek yang kemudian mengambil tempat cahaya rasa, dan kecerdasan pikirannya menggigil kenikmatan dalam keanggunan berekspresi.

Yesmil menyatakan, “Laki-laki arif itu, tak pernah melepas, penanya.” Saya ingin menyatakan, Saini KM tak pernah melepas cintanya. Cinta pada keindahan puisi yang menjadi rumah intelektualitas, kearifan, dan kesegaran hidupnya. Panjang umur. Bahagia. Tanpa henti memaknai usia berkah. |

Kg Janda Baik – Pahang, Malaysia, September 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here