Saini KM, Guru yang Berpijak Pada Tradisi dan Berpandangan Jauh ke Depan

0
71
Foto: Istimewa

Risyani,SST.,M.Sn.*

Gaya bahasanya sederhana, terstruktur, fungsional, namun terasa amat santun. Itulah perkenalan pertama di dunia literasi dengan Saini KM ketika memberi ulasan-ulasan tentang sajak-sajak atau puisi dalam kolom Pertemuan Kecil pada harian umum Pikiran Rakyat.

Pikiran, gagasan, dan gaya bahasa Saini KM sangatlah serasi dengan fisiknya yang berperawakan sedang, berkulit putih bersih, dandanannya rapi berpantalon serta kemeja berlengan pendek maupun lengan panjang, langkahnya cepat dan tegap seperti orang Jepang yang pernah diceritakannya dengan nada suara bening diiring senyum tersungging dari bibirnya. Selain itu, ia selalu mengenakan topi “pet” atau “newsboy” warna abu-abu atau cokelat, pada bagian lengannya tersampir sweater warna senada dengan warna topi, tangannya memegang buku atau tas kerja pria ukuran kecil, serta memakai kaca mata. Penampilam seperti itu seringkali dijumpai ketika menyaksikan concert piano di Lyceum Kristen Jl. Ir. H.Juanda (Dago) Bandung, pada pentas teater garapan Studiklub Teater Bandung (STB), pada peristiwa seni budaya, atau pada seminar-seminar dan saresehan tentang seni dan budaya.

Saini KM, sosok seniman budayawan yang bersama beberapa orang seniman di Bandung turut membidani lahirnya KORI (Konservatori Seni Tari) perguruan tinggi seni di Bandung yang kini telah berubah menjadi ISBI Bandung. Berdirinya KORI, tentu berangkat dari dasar-dasar pemikiran dan cita-citanya untuk memajukan seni tari tradisi dan seni lainnya di Jawa Barat. Pada masa berdirinya KORI hingga ASTI, persoalan desintegrasi pada masyarakat tradisionil, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung sudah mulai mengejala. Desintegrasi terjadi karena masuknya budaya asing secara menggebu-gebu seperti band-band, film yang diputar di bioskop, artis-artis yang disajikan dengan serampangan tidak memperhitungkan segi nilai seni asalkan bisa menghibur dan melepas penat masyarakat perkotaan tersebut. Masyarakat perkotaan yang heterogen dan membutuhkan seni hiburan, akhirnya terbuai oleh kebudayaan massa yang memiskinkan nilai artistik.

Saini KM menulis bahwa: tiadanya persentuhan dengan kesenian tradisionil akan merupakan salah satu faktor yang membawa generasi muda kita terasing dari pengalaman-pengalaman dan nilai-nilai kebudayaan bangsanya. Yang sangat penting, ialah kesanggupan untuk menghayati dan memahami pengalaman-pengalaman dan nilai-nilai dari masa lampau sebagai salah satu faktor penumbuh dan pemelihara sensabilitas budaya dan kesadaran sejarah yang tanpa ini, kita akan menjumpai generasi secara sosio kulturil tidak berakar, terapung. (Saini K. 1975-1976:30)

Seiring berjalannya waktu dan pergaulan dengan Saini KM, baik sebagai murid, staf pengajar, serta rekan kerja, amat terasakan bahwa Saini KM adalah guru yang berpijak pada nilai-nilai budaya tradisi, menghormati karya para leluhur, akan tetapi menerima nilai-nilai budaya di luar tradisi dengan catatan melakukan pemilihan secara sadar dan kritis terhadap budaya luar tersebut. Dicontohkannya bahwa tari Topeng Cirebon, sastra Lutung Kasarung, Mundinglaya di Kusumah, serta Sangkuriang, merupakan karya bermutu tinggi yang diciptakan oleh orang-orang kreatif yang tidak hanyut terbawa oleh arus jaman. Karya peninggalan leluhur tersebut merupakan kekuatan bagi generasi berikut dalam berkreasi. Dapat ditarik kesimpulan bahwa rasa hormat terhadap kreativitas leluhur megandung arti berusaha untuk kreatif. (Saini KM. 1976:13). Itulah pandangan-pandangan Saini KM terhadap pengembangan seni tradisi yang diharapkan dapat dilakukan oleh para pelaku seni baik murid-muridnya, para guru atau dosen, juga para penggiat seni pada umumnya.

Ketika saya sebagai sekretaris Saini KM pada lembaga Pusat Kebudayaan STSI Bandung, Saini KM pernah meluncurkan gagasan bahwa lembaga ini perlu memiliki “mobil pentas berjalan” untuk memasyarakatkan karya-karya seni secara luas yang tidak tersekat oleh dinding gedung kesenian atau kampus perguruan tinggi. Semoga gagasannya ini dapat terwujud oleh para pengelola ISBI sekarang.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya selalu ingat akan kata tanya yang selalu diucapkan Saini KM seorang guru bijak dan mengajarkan arti kreativitas dalam kehidupan yaitu “damang, dupi Ibu ayeuna nuju nyerat naon?”

Daftar bacaan:

Saini KM, Situasi dan Kondisi Kehidupan Kesenian dan Kebudayaan Propinsi Jawa Barat serta Peran Guru di Dalamnya. BULETIN KEBUDAYAAN JAWA BARAT          Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Nomor: 6/II/II, 1975-1976.

*Risyani,SST.,M.Sn. adalah praktisi seni tari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here