Paradigma Naratif Saini KM: Dari Puragabaya Sampai Masjid Alwalet

0
112

Arthur S Nalan

I

Siapa orangnya yang belum pernah membaca cerita bersambung  seri Puragabaya karya monumental Saini KM di koran Pikiran Rakyat ? Saya pastikan hampir tidak ada, karena cerita bersambung itu menjadi ikonik sebagai bagian dari dinamika koran tersebut.  Sekitar tahun 1970 cerita bersambung itu hadir di Pikiran Rakyat dengan penuh antusias ditunggu-tunggu pecintanya. Kemudian di dalam perjalanannya  diterbitkan oleh penerbit PT. Sanggabuwana  (1976) sebanyak 12 jilid dan kemudian oleh Bentang ( 2008) menjadi 3 jilid padat.

Gambar 1: Contoh cover seri Puragabaya: Banyak Sumba (koleksi Arthur S Nalan, tahun 1980)

Adapun ilustrasi dibuat oleh pelukis terkemuka yaitu Barli Sasmitawinata. Melihat covernya menjadi lebih otentik sebagai catatan sejarah Puragabaya karya Saini KM.  Simak pula lembaran promosi yang menarik, apabila dilihat di masa sekarang. 12 Jilid dengan harga Rp. 300,- kecuali jilid pertama dengan harga Rp. 375,-. Saya tidak tahu, siapa yang mengoleksi  12 jilid itu sekarang. Saya merasa beruntung menemukannya di sebuah toko kecil di lingkungan pasar buku Palasari Bandung.

Gambar 2:  Contoh promosi seri Puragabaya  yang dilampirkan pada cover belakang bagian dalam di dalam novel Puragabaya (5)  Banyak Sumba, tahun 1976 (koleksi Arthur S. Nalan)

Antusiasme pembaca Puragabaya “dibaca” oleh penerbit Bentang, yang akhirnya berhasil menerbitkan seri Puragabaya menjadi 3 Jilid tebal (rata-rata 358 halaman).  Tiga seri Puragabaya tersebut: Pangeran Anggadipati, Raden Banyak Sumba, Pertarungan Terakhir. Saya beruntung memilikinya, mungkin sekarang sudah hilang juga di pasaran, padahal “kerinduan” pada Puragabaya karya ikonik monumental dari Saini KM masih tetap dicari. Saya selalu membaca “berkali-kali” untuk menimba inspirasi, sampai akhirnya saya berhasil menulis  lakon Tembang Rawayan (1987) yang terinspirasi dari Puragabaya Saini KM. Terdapat pemahaman Yakob Sumardjo, bahwa Purabaya bukan novel sejarah tetapi novel Silat versi Saini KM.

Sejak seri Puragabaya sampai  beberapa lakonnya, saya mengakui bahwa Saini KM seorang yang produktif dan kreatif. Sejumlah karya sastranya antara lain:

Pangeran Suntenjaya (1973), Ben Go Tun (1977), Egon (1978), Serikat Kacamata Hitam (1979), Sang Prabu (1981), Kerajaan Burung (drama anak, 1980, pemenang Sayembara Direktorat Kesenian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sebuah Rumah di Argentina (1980, pemenang Sayembara Badan Musyawarah Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa), Kalpataru (drama anak, 1981, pemenang Sayembara Direktorat Kesenian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan), Pangeran Geusan Ulun (drama, 1963), Siapa Bilang Saya Godot (drama, 1977), Restoran Anjing (drama, 1979), Panji Koming (drama, 1984), Syekh Siti Jenar (drama, 1986), Ken Arok (drama, 1985), Amat Jaga (drama, 1985) ( https://id.wikipedia.org/wiki/Saini_KM).

Tidak semua lakon karyanya saya baca, tetapi  karena lakon-lakonnya sering dimainkan kelompok Teater ATPU (berubah menjadi Kiwari), umumnya disutradarai Yadi Kudsi dan Yosef Iskandar.  Lakon lakon karya Saini KM menjadi “langganan” garapan teater Kiwari (bukan teater Sunda Kiwari). Proses pengenalan terhadap lakon-lakon Saini KM, saya lanjutkan dalam proses memahami. Salah satu yang ditemukan dalam lakon-lakonnya adalah  “kesastraan” dan “kesopanan”, artinya  Saini KM memiliki kekuatan bahasa yang menarik, menggali “sumber penciptaan” dari sasakala (legenda), sejarah, maupun karya sastra lama dilakukannya dengan tertib dan dalam kaidah-kaidah bahasa yang terpilih. Simak saja beberapa lakonnya: Pangeran Geusan Ulun, Pangeran Suntenjaya, Ken Arok, Sang Prabu, Syekh Siti Jenar, dll. Lakon-lakon bernafaskan Babad (episoda sejarah atau legenda) sangat menarik untuk dipelajari oleh generasi masa kini, karena menyimpan “inspirasi”, bagaimana Saini KM menulis lakon Babad.

Selanjutnya lakon-lakon Saini KM yang gagasannya bertolak dari realitas kehidupan yang berasal dari lingkungan sekitar dan peristiwa-peristiwa kehidupan berbangsa. Simak saja beberapa lakonnya yang bernafaskan Realisme:  Ben Go Tun, Egon,  Serikat Kacamata Hitam, Sebuah Rumah di Argentina, Restoran Anjing, Amat Jaga, bahkan lakon yang  belum terpromosikan, seperti Darah di Taman Firdaus, dan Mesjid Al’Walet.  Saya mencoba memahaminya, ternyata Saini KM seorang yang memiliki “kesopanan” selain “kesastraan” yang khas. Kesopanan kesehariannya (kepada anak kecil sampai orang tua) tetap bersopan santun, hal ini “membekas” ke dalam lakon-lakonnya yang tidak ada kata “kasar” terucap dari tokoh-tokohnya. Saya tak menemukan kata “makian” yang kasar, kalau pun ada, saya yakin itu “keinginan” sutradara saja. Demikian pula, pengaruh berfilsafat dalam dirinya, sampai tokoh tukang sampahpun mengenal  tokoh filsafat dunia.

Saya ingin mencatatkan lahirnya lakon Mesjid Al’Walet (2000) karena erat hubungannya dengan adanya “aub” (keikut sertaan) saya di dalamnya.  Suatu hari Saini KM membicarakna lakonnya yang baru, belum diberi judul. Kemudian berbincang dengan saya, akhir perbincangan sampailah pada kemungkinan judul lakon, Saini KM meminta saya dengan pertimbangan bahwa judul-judul lakon  yang saya buat menurutnya menarik. Saya serasa mendapat tantangan dari seorang guru lakon yang saya kagumi, saya mendapatkan copy lakon tanpa judul. Setelah saya baca bulak balik, akhirnya judul lakon itu Mesjid Al’Walet. Karena awalnya tanah wakaf yang didirikan mesjid tak jadi dibangun alias mangkrak, kemudian dijadikan usaha sarang burung walet dan lalu diledakan oleh seorang warga memprotes.  Saya memilih judul lakon tanpa judul karya Saini KM itu menjadi Mesjid Al’Walet, sebab bukan mesjid tapi bukti orientasi materialistik dari tokoh utamanya yangt semula mau membangun mesjid tetapi tergoda oleh bisikan duniawi. Ketika judul itu disampaikan pada Saini KM, ucapan terimakasih yang tulus dari seorang guru pada muridnya.  Saya berharap ada kelompok yang mementaskan lakon menarik ini, yakni Mesjid Al’Walet.

Lakon yang lainnya adalah lakon-lakon untuk anak, seperti Kerajaan Burung dan Kalpataru. Dua lakonnya ini sangat disukai oleh para penggarap teater anak-anak, sementara saya menjadikan lakon anak-anak karya Saini KM sebagai “inspirasi” karena akhirnya saya berhasil menulis lakon-lakon anak juga, seperti Dunianya Didong, Si Samudra, Si Badul dan Anak Ondel-ondel, Si Jantuk di negeri Kukuruyuk, Gunung Permen (lakon ini hilang), Si Ogleng dan Anak Gembala.

Saini KM dalam kreativitas lakon patut dijadikan “tuturus”(bahasa Sunda) yang artinya sepotong bambu tegak untuk tanaman merambat ke atas. Banyak penulis lakon yang mungkin “belajar dari karya-karya lakon dan novel Saini KM, sebagaimana saya ibarat tanaman yang merambatnya, saya merasa menjadi kacang panjang, roay dan jaat (tanaman merambat) dan tuturus-nya Saini KM.

II

Saini KM sebagai manusia penutur

Membaca karya-karya sastra Saini KM, baik lakon maupun novel  saya berani mencatatkan bahwa dia seorang manusia penutur (Homo narrans),  sebagaimana diistilahkan oleh Walter Fisher dalam  West dan Turner (2006: 343), tentang lima asumsi paradigma naratif Fisher:

“Paradigma naratif memiliki lima asumsi dalam konteks  komunikasi: (1) orang-orang adalah juru kisah esensial; (2) Kita pembuat keputusan dalam berbagai alasan yang baik, melalui berbagai variasi situasi komunikasi, media, dan genre (filosofis, teknis, retorik, atau artistik); (3) Sejarah, biografi, budaya, dan penentuan karakter tentang apa yang  menjadi pertimbangan alasan-alasan yang baik; (4) rasionalitas naratif adalah ketekunan melalui pertalian dan kesetiaan terhadap  lakon yang diceritakan; (5) Dunia adalah sebuah kumpulan cerita dari yang kita pilih, dan juga selalu dikreasikan, tentang kehidupan kita. 

Saini KM sebagai juru kisah esensial

Pengarang adalah manusia yang memiliki kemampuan memakai bahasa  yang banyak bentuk dan makna. Sebagaimana dikemukakan oleh Wittgenstein dalam Cavalaro (2004: 20) bahwa:

“ bahasa memerlukan banyak bentuk. Di dalamnya kata yang sama mungkin digunakan. Akan tetapi penggunaan secara berbeda pada kata yang sama tidak membuat kata itu sendiri sama dalam segala bentuk bahasa…segala yang kita punya adalah sebuah keserbaragaman dalam perbedaan dan permainan bahasa (language games) yang saling mempengaruhi, masing-masing dibangun oleh aturan-aturan khusus dan dihubungkan-secara analog-dengan permainan-permainan yang lain. Makna adalah produk dari situasi-situasi yang terkait (contingent situation)”.

Lakon-lakon Saini KM, menurut pendapat saya dapat dikategorikan menjadi  tiga, yakni lakon-lakon Babad dan Lakon-lakon Realis dan lakon Anak-anak. Lakon-lakon Babad yang bersumber dari sejarah, legenda, folklor lisan lainnya seperti:  Pangeran Suntenjaya, Pangeran Geusan Ulun, Sang Prabu, Ken Arok, Syekh Siti Jenar, Ciung wanara dll. Sementara lakon-lakon Realis bersumber dari kehidupan sekitarnya yang dicerap secara pribadi, seperti:  Ben Go Tun, Egon, Serikat Kacamata Hitam, Sebuah Rumah di Argentina, Amat Jaga, Madegel, Siapa bilang saya Godot, bahkan lakon yang  belum terpromosikan, seperti Darah di Taman Firdaus, dan Mesjid Al’Walet.  Sementara lakon Anak-anak, antara lain Kerajaan Burung dan Kalpataru, merupakan “pesan-pesan etnopedagogi” untuk mencintai alam sekitar, musikal dan komunikatif.

Saini KM menyadari benar bahwa lakon-lakon yang diciptakannya sangat tergantung dari situasi-situasi yang terkait yang diharapkannya dapat menghasilkan makna. Saya sekarang terus “menghayati” lakon-lakon Saini KM, mengapa dia bisa “menghidupkan” tokoh-tokohnya, salah satunya tokoh jendral dalam  Ben Go Tun, yang diakhir lakon ternyata orang gila dari sebuah RSJ. Tokoh tersebut  (orang gila) sekarang menjadi salah satu tokoh andalan saya dalam lakon-lakon saya.

Sebagaimana dikemukakan Wittgenstein keserbaragaman dan perbedaan dan permainan bahasa (language games) yang saling mempengaruhi, masing-masing dibangun oleh aturan-aturan khusus dan dihubungkan secara analog dengan permainan-permainan yang lain. Lakon-lakon Babad karya Saini KM memiliki keserbaragaman  karena  memiliki sumber yang berbeda, sejarah (Pangeran Geusan Ulun, Ken Arok, Syekh Siti Jenar), legenda (Sang Prabu, Ciung Wanara, Damar Wulan), folklor lisan Sunda seperti Pantun (Pangeran Suntenjaya, Mundinglaya). Hal ini memberi “daya tarik” tersendiri bagi siapapun yang membacanya, terutama bagi para sutradara Teater. Selain itu Saini KM  memiliki permainan bahasa (language games) pada puitika bahasa dalam lakon-lakon Babad ciptaannya. Sama halnya di dalam lakon-lakon Realis dengan permainan-permainan “nasib pernasiban” manusia kecil di perkotaan, dilema masyarakata urban, tekanan ekonomi, respon terhadap pengrusakan lingkungan, dll. Saini KM mampu “memberi tafsir kreatif” terhadap peristiwa peristiwa yang terdapat dalam “ situasi-situasi yang terkait” sehingga  memiliki makna sebagai produknya. Sedangkan dalam lakon Anak-anak, sangat lekat dengan “pendidikan berbasis budaya” untuk mencintai lingkungan alam sekitar.

Kembali kepada Saini KM sebagai manusia  penutur (Homo Narrans) bahwa saya meyakininya. Jika tidak percaya baca lakon-lakon dan novelnya. Hal itu akan mendorong persepsi yang sama, dalam memandang karya-karya Saini KM. Tanpa membacanya, tentu mustahil dapat mengakui bahwa Saini KM seorang manusia penutur (Homo Narrans).

Saini KM pembuat keputusan dalam berbagai alasan yang baik

Asumsi kedua dari Fisher, bahwa “Kita pembuat keputusan dalam berbagai alasan yang baik, melalui berbagai variasi situasi komunikasi, media, dan genre (filosofis, teknis, retorik, atau artistik”. Artinya diberlakukan pada Saini KM, dia telah mampu menjadi pembuat keputusan (executor) dalam berbagai alasan yang baik, karena lakon-lakonnya memiliki “pesan-pesan” yang dikomunikasikan dalam pelbagai variasi situasi komunikasi, media pertunjukan, pembacaan lakon (dramatic reading) dan dalam ragam jenis lakonnya. Bermuatan filosofis yang banyak “hasi perenungannya”, petunjuk pengarang (author direction) yang detail dalam lakon-lakonnya, teknis penyajian struktur dramatik yang dikuasainya dengan fasih. Retorika bahasa dan argumen-argumen para tokohnya yang lebih hadir sebagai perenungan pengarang. Juga hambaran-gambaran artistik panggung dan lingkungan setting yang terdapat di dalam setiap lakonnya. Sutradara yang kreatif akan lebih mantap menyadari “kekuatan” lakon-lakon karya Saini KM. Setiap dramawan memiliki alasan-alasan yang baik di dalam setiap lakonnya, terutama alasan edukasi yang tersembunyi (sebagaimana pemahaman saya tentang sandiwara).

Saini KM memandang sejarah, biografi dan budaya dan penentuan karakter

Membaca karya-karya Saini KM, terutama lakon lakon Babad-nya, Saini KM adalah seorang pembaca sejarah, tetapi bukan “memindahkan” sejarah, namun “mendramatisir” sejarah, dan sejarah menjadi “versi” baru dengan tema baru yang “tidak sama” dengan sejarah aslinya. Itulah tugas seorang penulis lakon. Salah satu contohnya dalam lakon Pangeran Geusan Ulun (1963, Geusan Ulun (bahasa Sunda) arti sebenarnya “tempat mengabdi” , nama dalam sejarah adalah Pangeran Angkawijaya, putra Pangeran Santri.  Raja muda yang masih muda pengalaman ini, dikelilingi para Kandagalante dari Pajajaran yang dipimpin Jayaperkosa. Mereka mengabdi pada raja muda Sumedanglarang. Biografi raja muda ini dengan kisah cintanya terhadap putri Harisbaya (asal Madura) yang menjadi selir Uwa Pamannya Girilaya raja Cirebon tampak tergambar, juga biografi Jayaperkosa dengan konteks “tangkal hanjuang” sebagai tanda kemenangan jika tumbuh dan berkembang. Tiga sub budaya dipertemukan dalam khasanah kasundaan antara Sumedang larang, Cirebon, dan Pajajaran. Saini KM berhasil mengabadikannya, peranan Jayaperkosa telah ditentukan karakternya berdasarkan “tafsir kreatif” Saini KM. Itulah sebabnya, di dalam pertunjukan produksi STB (1982) Jayaperkosa dipercayakan pada aktor handal Eka Gandara WK dan bagi saya menjadi “kenangan yang sulit dilupakan” (memory after image). Eka Gandara WK berhasil “menghidupkan” karakter Jayaperkosa dengan cemerlang.

Saini KM memiliki rasionalitas naratif

Eric Bentley dalam bukunya  Playwright as thinker ( 1955) yang menjadi salah satu rujukan saya, saya setuju dengan Bentey bahwa seorang penulis lakon (Playwright) adalah seorang pemikir (a thinker). Saini KM lewat pemikiran-pemikirannya antara lain:

Beberapa Gagasan Teater (kumpulan esai, 1981), Dramawan dan Karyanya (1985),Apresiasi Kesusastraan (buku teks, bersama Jakob Sumardjo, 1986), Antologi Apresiasi Sastra (1986; ed. Bersama Jakob Sumardjo), Protes Sosial dalam Sastra (kumpulan esai, 1986), Teater Modern Indonesia dan Beberapa Masalahnya (kumpulan esai tentang drama, 1987), Seni Teater 1-6 (1989-1990, ditulis bersama Ade Puspa dan Isdaryanto), Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993, dihimpun oleh Agus. R. Sarjono dari ruang “Pertemuan Kecil harian Pikiran Rakyat yang diasuhnya sejka 1979 (https://id.wikipedia.org/wiki/Saini_KM).

Sejumlah pemikirannya tersebut, sesungguhnya dihasilkan dari rasionalitas naratif, karena menuliskan pemikiran tanpa rasionalitas naratif, kalau di dalam bahasa Sunda dapat disebut “entep seureuh” artinya tertib dan jelas. Bagi saya pemikiran-pemikiran Saini KM “ngentep seureuh” jelas dan tidak ribet, mengandung rasionalitas naratif. Demikian pula halnya di dalam lakon-lakonnya, hubungan sebab akibat (plot), bayang-bayang awal (foreshadowing), struktur dramatik (dramatic structure), tema (thought) dipahami benar olehnya, di dalam bahasa Sunda dapat disebut “ngolotok” (di luar kepala).  Hal ini patut dicontoh bagi siapa saja yang ingin menjadi penulis lakon. Pertalian dan kesetiaan  terhadap lakon-lakon yang diceritakannya, menjadi  jelas, sejelas pemikiran-pemikirannya.

Saini KM memilih dunia sebagai  kumpulan cerita

Lengkapnya asumsi  yang kelima dari paradigma naratif Fisher: Dunia adalah sebuah kumpulan cerita dari yang kita pilih, dan juga selalu dikreasikan, tentang kehidupan kita. Saini KM telah memilih dunia sebagai kumpulan cerita yang dipilihnya (karya-karya lakon dan novelnya) dan selalu dikreasikan.  Saini KM telah mewarisi sejarah, legenda, folklor lisan Sunda (Pantun), sepanjang sejarah hidupnya karena dia pembaca yang baik, juga penghayat kehidupan sekitarnya. Kepekaannya terhadap masalah sosial politik, kerusakan lingkungan telah mendorong dirinya terus melakukan kreasi, sebagai contoh karyanya Egon (kependekan dari Eceng Gondok) ketika terjadi krisi pangan di Karawang, yang merupakan “lumbung beras” tetapi ironis terjadi krisis pangan. Saini KM “mendramatisirnya” menjadi realitas kedua yang berbeda dengan aslinya, karena peristiwa krisis pangan hanya sebagai “pematik” kreativitasnya dan tafsir kreatifnya.

III

Perjalanan panjang penulisan Saini KM, sebenarnya dapat dibuat buku tersendiri sebagaimana buku The World of Drama ( 1972) yang terdiri 4 jilid tentang para dramawan dunia. Penyusunan buku tentang lakon-lakon karya Saini KM di masa yang akan datang perlu dilakukan, siapapun yang tertarik menyusunnya. Hanya sebelum menyusun perlu melakukan penelitian dan kajian yang intens serta serius terhadap lakon-lakonnya. Semua orang punya “kesempatan” mengkaji karya-karyanya.

Artikel ini sengaja ditulis sebagai bentuk penghormatan  kepada Saini KM yang di dalam batin saya sebagai “tuturus” yang telah memberi identitas bagi saya sebagai penulis lakon (playwright) atau seorang dramawan. Meminjam paradigma naratif Walter Fisher hanyalah cara dan pilihan saya melakukan “pendekatan” terhadap karya sastra Saini KM, baik lakon maupun novel. Walaupun hanya sekilas saja. Satu hal yang ingin saya catatkan, bacalah karya Saini KM niscaya kita akan menemukan “oase” kreativitas di dalamnya.

Daftar Bacaan

Abercrombie, Nicholas, et all (ed). 2010. Kamus Sosiologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Amstrong, David, et all (ed). 1972. Encyclopedia of World Drama,), New York, Mc Graw-Hill Book Company.

Benteley, Eric. 1955. Playwright as Thinker. New York: Meridian Books, Noonday Press.

Cavallaro, Dani. 2004. Critical and Cultural Theory,  Yogya: Niagara.

Danadibrata, R.A. 2006. Kamus Basa Sunda, Bandung: PT. Kiblat Buku Utama.

Dwimarwati, Retno. 2017.  Religiusitas Saini KM dalam Lakon Sang Prabu, artikel dalam Simposium dan Forum Naskah Teater, Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud dan DKJ.

Griffin, EM (ed). 2006. A First Look At Communication Theory, sixt editian, New York: Mc Graw Hill.

KM, Saini. 1976. Banyak Sumba, seri Puragabaya (5), Bandung: PT Sanggabuwana.

KM, Saini. Raden Banyak Sumba, seri kesatria hutan larangan, Yogyakarta: Bentang.

West, Richard, Lynn H. Turner. 2007.  Introducing Comunication Theory: Analysis and Aplicatio, Third Edition, Boston: McGrawHill.

Webologi

https://id.wikipedia.org/wiki/Saini_KM

*Dr. Arthur S Nalan S.Sen. M.Hum adalah peneliti budaya Sunda, penulis buku dan dosen ISBI Bandung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here