80 Tahun Saini KM : Kebudayaan itu Rekayasa

0
357

Oleh Endang Caturwati

Berbicara mengenai sosok Saini KM, merupakan pribadi yang unik. Kadang kelihatan sangat konvensional, sangat santun, berprofil sangat birokrat, namun banyak juga membuat kejutan-kejutan keterbukaan pada gagasan-gasasan baru. Bagi saya, Saini K.M merupakan literature yang selalu up to date sepanjang zaman. Bahkan buah pikirnya bukan saja merenungkan perkara lokal, spiritual, konvensional yang selalu ingin memelihara tradisi, pemulyaan tadisi, kegalauan akan pelestarian dan nilai tradisi yang banyak ditinggalkan oleh para pemiliknya, terutama masyarakat Sunda, tetapi juga membahas mengenai keterbukaan, dan inovasi. Di antaranya, pendapatnya mengenai pengkemasan seni tradisi, bahkan, setuju dengan kiprah Nano.S, terutama inovasi lagu-lagunya yang menyesuaikan dengan selera pasar. Saini K.M, menyatakan bahwa otensitas jati diri menuntut adanya keberanian untuk ‘mengakarkan diri pada nilai-nilai’. Di sisi lain Saini K.M pun berani mengkritik mengenai ketidakmampuan orang Sunda untuk memulyakan budaya miliknya sendiri, sebagai berikut;

Orang Sunda belum mampu memuliakan warisan budayanya, tidak dapat menyelamatkan, merawat, dan mewariskan niai-nilai kebudayaan yang terkandung dalam kearifan-kearifan suku, adikarya-adikarya bahasa dan sastra, musik, seni rupa, seni tari, dan sebagainya. Kini Orang Sunda berhadapan dengan masalah-masalah yang bersumber pada tuna-budaya dan tuna adab. Perbuatan tawuran, sampai korupsi, penggunaan narkoba, sampai geng motor, kemerosotan kemampuan berbahasa sampai munculnya “generasi anjing” adalah sebagian dari akibat kegagalan upaya peristiwa budaya itu, (Saini K.M. 2005).

Mengenai Pemulyaan Seni, menurut Saini, bisa dilakukan melalui berbagai kegiatan dengan membuka kepekaan nilai instrisik dan entrisik, hingga mampu terharu oleh keindahan dan kekayaan rohani seni tradisional Sunda, sebagaimana yang dilakukan maestro Tembang Sunda Cianjuran Uking Sukri. Adapun menjaga kelestarian atau menjaga api, dengan mengkemas seni tradisi, sebagaimana yang dilakukan oleh Nano.S. Selain kesetiannya kepada tradisi dan terbuka bagi inovasi, Nano. S pun memahami akan generasi publiknya yang khas, indu kebaruan, dengan memilih penyanyi yang cocok membawakan lagu-lagunya sesuai dengan karakter yang diinginkan, antara lain lagu Kalangkang dan Cinta Ketok Magig, yang pada tahun 1980-an sangat popular, dengan wanda laras degung, juga dengan lagu-lagunya yang bergaya Pop Sunda, yang dilantunkan oleh penyanyi Nining Meida.

Tatkala undang-undang Kebudayaan digulirkan pada tahun 2017, khususnya mengenai Pemajuan Kebudayaan. Dalam Undang-undang Pemajuan Kebudayaan ditekankan pada pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan terhadap sumber daya manusia (SDM), agar budaya Indonesia dapat tumbuh tangguh. Mandat pertama adalah mengenali, kemudian mengembangkan. Dalam UU Pemajuan Kebudayaan, ada 10 objek pemajuan kebudayaan, yaitu tradisi lisan; manuskrip; adat istiadat; ritus; pengetahuan tradisonal; seni; bahasa; permainan rakyat; dan olah raga tradisional.

Saini K.M, pada tahun 2000, telah berbicara esensi tentang hal tersebut, dalam tulisannya, menyatakan, bahwa ‘Kebudayaan adalah Rekayasa’ . Kebudayaan sebagai perangkat gagasan, perangkat perilaku, dan perangkat peralatan-perlengkapan, adalah perwujudan upaya manusia di dalam ‘merekasaya ‘ lingkungan jasmani dan rochani. Rekayasa ini dilakukan manusia agar ia selamat (survive) dan berkembang serta sejahtera ( grow). Dalam arti, Kebudayaan itu dinamis. Manusia tidak dapat terus-menerus berpedoman pada perangkat gagasan daluwarsa, bertingkah dengan perilaku tetap dan mempergunakan peralatan-peralatan yang lapuk di dalam menghadapi setiap keadaan. Apabila tetap bersikukuh dengan keyakinan, perilaku dan perlengkapan daluwarsa, maka sedikitnya ia akan mandeg, bahkan tidak mustahil akan musnah. Dengan kata lain, masyarakat pelaku kebudayaan harus mau berubah agar selamat dan sejahtera, karena kebudayaan itu adalah perubahan.

Akan tetapi bukan berarti secara nostalgis bersikukuh kepada nilai-nilai budaya local yang pernah ada, melainkan menyesuaikan konteks tempat, waktu, dan keadaan pada masa kini, untuk kemudian bagaimana melakukan rekasaya, hingga tumbuh nilai-nilai yang akan memberi peluang untuk selamat (survive) dan berkembang sejahtera ( grow). Dalam upaya tersebut, sudah barang tentu harus menjadikan nilai-nilai budaya local menjadi salah satu rujukan.

Saini K.M merupakan pemikir seni budaya yang konperhensip. Untuk mengisi berbagai hal referensi yang ada di kepalanya, berbagai buku ia jadikan rujukan. Sebagai mahasiswa yang pernah diajar olehnya, secara pribadi saya melihat sosok Saiini K.M, sangat berbeda dengan dosen-dosen lainnya. Sejak menjadi muridnya, pada tahun 1976, saya banyak diberi beberapa artikel tulisannya yang sangat variatif, yang pada saat itu saya belum gemar membaca. Baru kemudian ketika melanjutkan program S2 di Universitas Gadjah Mada, dan menganbil Tulisan Tugas akhir mengenai ‘Tokoh Tari Tjetje Somantri ‘ sebagai Pembaharu Tari Sunda, mau tidak mau saya harus membaca dan menulis, karena tugas dari para dosen yang tiada akhir. Beruntung, saya sering diberi artikel-artikel tulisannya yang berkaitan dengan kiprah Tjetje Somantri, terutama yang khusus menyoroti kiprah Tjetje Somantri pada unsur koreografi dan busana yang dipandang agak erotis, yang lebih mengeskpoitasi tubuh, sehingga lebih menunjukkan nilai-nilai ekstrinsik daripada instrisik. Hal tersebut menjadikan motivasi bagi saya untuk lebih menggali, topik yang saya teliti, terutama mengejar para sumber primer, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh para murid Tjetje Somantri.

Saini. K.M tidah hanya menulis tentang sastra atau puisi sebagai potensi basic keilmuannya. Justru karya-karya sastra penulis lainnya, ia jadikan rujukan untuk menganalisis fenomena budaya. Ia menulis berbagai hal tentang peristiwa seni budaya, termasuk menelisik kiprah para maestro seni selain Tjetje Somantri, juga Tokoh Tembang Uking Sukri, dan Tokoh Karawitan Wanda Anyar Nano S, dengan pendekatan Humanis dan kreativitas Seni.

Dengan kesantunan Saini. K.M, untuk berani mengemukakan pendapat serta mengkritik sesuai dengan argumentasi hasil analisisnya, merupakan sikap yang sangat konsekwen dan terbuka, terhadap ide, gagasan, serta perubahan, yang menunjukkan adanya progress dalam hal argumentasi, persepsi dan interpretasi fenomena peristiwa budaya.

Terlebih ketika saya melanjutkan studi S3 Program Doktor di UGM Gadjah Mada, saya memilih Prof. Saini K.M (STSI) dan Prof. Kusnaka Adimihardja (UNPAD) sebagai Konsultan dalam hal Tekstual dan Kontekstual , untuk tulisan Disertasi, Saini K.M selalu memberi tugas untuk membaca buku yang diberikan pada saya, dan harus dibahas pada saat saya memiliki waktu pulang ke Bandung. Hampir 90 persen buku yang diberikan kepada saya menggunakan Bahasa inggris. Tentu saja merupakan kerja ekstra dan super serius, karena ada dua hal yang harus saya siapkan. Pertama harus berfikir keras mengenai makna dari setiap kata dalam Bahasa Inggris, yang kedua mengkaitkan dengan teks dan konteks yang terkait dengan tulisan. Selanjutnya mendiskusikan dengan Saini K.M. Pada awalnya, kami sering berdebat, karena Saini K.M lebih banyak studi berdasarkan literature dan peristiwa budaya yang secara kebetulan dia lihat dari pengalaman yang tidak disengaja, sedangkan yang didiskusikan, adalah sebaliknya, hasil ‘pengalaman yang sengaja saya lihat dan rasakan, ’ dari hasil riset di lapangan yang sangat kompleks dengan berbagai persoalan.

Dari peristiwa tersebut justru, merupakan pengalaman bagi sosok Saini K.M untuk mau bernegoisasi dengan mengaplikasikan pendapatnya sesuai dengan hasil riset saya. Ada kejujuran ilmiah yang dia lontarkan, bahwa apa yang saya ceritakan dari hasil penelitian saya di lapangan merupakan hal yang baru ia ketahui. Hanya saja, yang belum saya penuhi permintaannya pada saat itu, adalah seorang Saini.K.M ingin ikut serta melihat Peristiwa Budaya yang saya teliti, terutama tingkah laku para Sinden-Penari dan para Bajidor ketika di atas panggung, serta peristiwa ziarah Kubur para Sinden-Penari di Kabupaten Subang (di luar panggung), karena jadwal kesibukan yang tidak pernah kompromi.

Saini.K.M menyarankan penelitian lapangan harus terus digali dan dikembangkan menjadi kebiasaan para dosen yang harus dikuatkan pula oleh berbagai literature, sebagai materi bahan ajar di kelasnya. Hal tersebut sangat penting, merupakan modal dasar untuk mengalisa peristiwa budaya untuk membuat solusi-solusi sesuai dengan perubahan yang ada.

Terimakasih Bapak Prof. Saini K.M, yang telah memberikan support kepada murid-muridnya dengan caranya sendiri, dengan memberikan pekerjaan rumah “ memberi artikel dan buku serta, mendiskusikan isinya. Berkat itu semua, menjadikan bekal bagi para muridnya, terutama juga bagi saya pribadi, untuk terus gemar membaca dan menulis. Saini K.M merupakan sosok pemikir yang membumi, berfikir local untuk kepentingan global . Alhamdulillah, ada sedikit jejak yang menular kepada saya, yakni menjadi Profesor Seni Perempuan Pertama, menjadi Direktur Pascarasjana Pertama STSI Bandung, menjadi Ketua STSI Bandung (Perempuan Pertama), Menjadi Direktur Kesenian Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Perempuan Pertama), serta berbagai jabatan dan kegiatan seni lainnya, dan yang pasti, adalah………..sejak saat itu saya menjadi gemar membaca dan menulis, baik di koran, maupun berupa buku-buku. Sampai saat ini alhamdulillah, sudah sepuluh karya buku dan karya Seni saya, mendapat HAKI dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, yang lainnya dalam tahap proses.

Prof. Saini K.M, merupakan sosok seniman, budayawan, dan ilmuwan yang santun, yang selalu menapak untuk meninggi. Semoga semua kiprah bapak selalu menjadikan inspirasi bagi para muridnya. Selamat Ulang Tahun yang ke 80, Prof. Saini. K.M, semoga Bapak beserta keluarga selalu diberi kesehatan dan keberkahan , Aamiin YRA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here