Saini KM di Mata Sang Anak

0
167

80THSAINIKM – Nama saya Asri, tapi sering dipanggil Aas. Saya anak tertua dari 3 bersaudara. Izinkan saya berbagi cerita tentang pak Saini sebagai ayah.

Sebagai anak Ma Naneng dan Apa Saini, kami diberi kebebasan untuk banyak membuat pilihan hidup secara mandiri. Salah satu keputusan penting yang saya buat saat masih remaja adalah saat saya memutuskan untuk TIDAK menjadi seniman atau pekerja seni, demikian juga adik-adik saya.

Bila mengenang masa itu, saya heran atas ketenangan Pak Saini. Tidak ada kata penolakan, apalagi ungkapan kecewa. Saya yang dibawanya ke pertunjukan teater, pembacaan puisi juga diperkenalkan pada keindahan budaya sunda sejak masih kecil, memutuskan untuk memilih jalan lain dari jalan seni yang ia tempuh selama ini.

“Menjadi beda tidak apa-apa”, itu salah satu petuahnya. Dan saya menerjemahkan petuahnya saat itu dan sampai saat ini dengan segala resikonya.

“Berani Beda” ternyata bukan jargon yang sederhana. Menjadi terpisah dari kelompok besar, ternyata mengundang sepi dan kadang terisolasi. “Tong nanaon ku nanaon!”, kata Pak Saini saat saya mengeluhkan sepi. Simpel. Tanpa ekspresi.

Ekspresi Pak Saini yang datar, bukan berarti tanpa rasa. Pak Saini adalah seorang yang penuh kasih. Masih saya ingat saat menceritakan mahasiswanya yang berprestasi dengan mata yang bercahaya bangga, atau tentang seorang koleganya setelah satu pertunjukan yang menarik, atau tentang sahabat-sahabatnya yang selalu dikenang dengan rona kerinduan. Kita juga mendengar kisah sehari-hari tentang sopir kantor, satpam atau orang-orang sekelilingnya. Cerita kebaikan saja yang kami dengar dari Pak Saini dengan ekspresi seadanya. Ekspresi pak Saini akan bertambah “sedikit” apabila sedang ngobrol dengan cucu dan cicitnya. Bahkan bila saya dan adik-adik serta mantu-mantunya saling bercerita dan merubah ruang keluarga menjadi komedi badut, pak Saini tak pernah terbahak, cukup tersenyum saja dari sudut ruangan.

Pada waktu pak Saini sakit keras karena stroke, ibu saya dan kami, anak-anaknya mengusahakan kesembuhan dengan segala upaya. Saat beliau sadar kembali dan mulai sehat, dia berkata pada adiknya : “Saya berhutang nyawa pada istri dan anak-anak!”. Hal ini tentu mengejutkan bagi orang lain. Bukankah kewajiban istri dan anak untuk merawat suami dan ayahnya?. Tidak, bagi pak Saini, mencintainya adalah pilihan. Dan itulah pilihan kami.

Bagaimanapun juga, Pak Saini adalah mercusuar. Bagi kami, dia teguh tanpa terlihat kuat, dia juga membagikan nilai-nilai hidupnya tanpa pernah berteriak. Kami, anak-anak dan keluarganya, seperti perahu kecil disekelilingnya yang pergi jauh dan kembali… pergi lagi menjalani hidup dan kembali lagi untuk sekedar menambah tenaga, demikian berulang-ulang, berputar, kemudian membuang sauh…. karena disanalah kami mengetahui, bahwa kami selalu dicintai.

Bandung, 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here