Puisi karya Saini KM dalam Kumpulan Puisi ‘Nyanyian Tanah Air’

0
152

SAJAK BUAT ANAKKU

Sampai di manakah cinta Ayah dan Ibu, Anakku

kalau tidak hingga ke ujung-ujung jari?

Akan tinggal saja menggapai, melambai dari stasiun kecil.

Pelabuhan terpencil.

 

Kemudian engkau sendirilah Ayah dan Ibu

dari Nasibmu

Terimalah Bumi dan Langit, hujan terik

siang serta malam hari kalbumu.

 

Sekali kan tiba saat kau tegak sendiri

Berdirilah atas bahu, ya, pijaklah kepala kami

jangkau bintang-bintang yang dari abad ke abad

cuma dapat kami tengadahi!

1963

 

SURAT BERTANGGAL 17 AGUSTUS 1946

Kami sambut fajar kami dengan cara tersendiri:

Tenggorok perunggu serak memaki-maki angkasa hitam

yang gemetar atas bumi karat dan rongsokan

tempat tulang-tulang abad lampau rapuh oleh asin air mata.

 

Hari ini pemuda-pemuda mengganti hati mereka dengan baja

Agar bisa tidur berbantal batu dan berselimut angin

Sedang bagi gadis-gadis kami hadiahkan mawar api

Kembang di ujung senapan, bau mesiu alangkah wangi!

 

Dengar! Lidah-lidah api memanggil di malam sepi,

berdentam, berdesing!

Kami pun ke luar, membajak Tanah Air dengan sangkur

telanjang

Menyiramnya dengan darah, memupuknya dengan serpihan

daging,

karena langit hanya menghujankan api dan besi, api dan besi.

1965

 

KOTA KELAHIRAN

Menghimbau kotaku di dasar hijau lembahmu

Dinafasi angin di dua musim

Ketika fajar berlinang embun

Dan gugur bunga-bunga kemarau.

 

Berapa banyak di sana bulan jatuh ke kali

Terapung dalam alir rindu kita

Surat-surat terlambat atas rentangan rel kereta

Jendela yang senantiasa terbuka ke arah masa lalu.

 

Berapa banyak di sini hujan menguyupkan hatiku

Dan malam lewat atas pelupuk mata terbuka

Jalan panjang merangkai tahun ke tahun

Di likunya wajah-wajah berdesak menyuruki sepi.

1960

 

PRIANGAN

Di sini tinggal bangsa petani

Hati berakar di dalam bumi

Sedang kali kehidupan

Berhulu di kubur leluhur.

 

Di sini lahir bangsa musafir

Barkawan lembah gunungmu

Jalan kenangan bersilang

Menjangkau dusun dan kota.

 

Di sini hidup  bangsa penyair

Kekasih bulan purnama

Kecapi malam cendana berukir

Semerbak lagu Cianjuran.

1960

 

NYANYIAN TANAH AIR

Gunung-gunung perkasa, lembah-lembah yang akan tinggal

menganga

dalam hatiku. Tanah airku, saya mengembara dalam bus

dalam kereta api yang bernyanyi. Tak habis-habisnya hasrat

menyanjung dan memuja engkau dalam laguku.

 

Bumi yang tahan dalam derita, sukmamu tinggal terpendam

bawah puing-puing, bawah darah kering di luka,

pada denyut daging muda

Damaikan kiranya anak-anakmu yang dendam dan sakit hati,

ya Ibu yang parah dalam duka-kasihku!

 

Kutatap setiap mata di stasiun, pada jendela-jendela terbuka

kucari fajar semangat yang pijar bernyala-nyala

surya esok hari, matahari sawah dan sungai kami

di langit yang bebas terbuka, langit burung-burung merpati

1963

 

SISYPHUS

Sisyphus mendorong batu ke puncak gunung

dan batu kembali ke jurang menggelundung.

Bolak-balik beribu tahun: beribu tahun

kau mendaki dan tergelincir, jatuh dan bangun.

 

Jatuh dan bangkit di Babil, Sodom dan Gomorah

Auschwitz, Hiroshima-Nagasaki dan Vietnam.

Dan dari dasar derita, dengan nafas tersengal

kau berseru ke langit, “Apakah artinya ini?”

 

Langit menjawabmu dengan biru, dengan bisu.

Kau pun bangkit lagi; pucat, berdebu dan luka

kembali mendaki dan memandang Angkasa. Mungkin

itulah artinya: Payah dan luka kau tak tunduk.

1974

 

AHIM, PENGANGKUT SAMPAH

“Selamat pagi, Pak. Ngantor?” demikan sapanya

pagi itu, saat kemarau menggugurkan daun-daun mahoni

“Selamat pagi,”  jawab saya seperti saya juga pernah

menjawab tegur sapa kakeknya tiga puluh tahun yang lalu.

 

Generasi ketiga, bagai generasi daun-daun mahoni

akan jatuh ke bumi dengan cara yang sama;

jadi pupuk, hanya jadi pupuk semata. Demikian

bagimu Ahim tiada kemarin-tiada esok hari.

 

Tujuh belas tahun bangku sekolah, satu perpustakaan

mungkin dapat mengubahmu jadi manusia; dan kau

diterima sejarah. Namun kesempatan itu telah hilang

dalam hidupmu hari ini, bawah timbunan sampah ini.

1986

 

PAK GURU ACIL

Bagai pohon ranggas pada usia dua delapan

Guru Acil tegar berdiri di depan kelas.

Dengan sabuknya ia kendalikan perut lapar

yang sudah menggerutu pada pukul sebelas.

 

“Anak-anak, buka mata dan lihat dunia!” serunya

pada para siswa yang berjajar duduk

di kelas berlantai tanah dan beratap ijuk.

“Anak-anak, kuajar kalian menulis masa depanmu.”

 

Di sudut Indonesia yang tak terlukis dalam peta

Guru Acil membariskan siswanya menghadap matahari;

berjalan di tanah berbatu dan tersandung-sandung

bagai tentara ia nyanyikan “Halo-halo Bandung”.

1985

 

DEWI SARTIKA

Kuntum yang berkembang dalam sepi

Di pinggir jalan tempat sejarah lewat

Akankah ia hanya menyebar wangi

Pada angin lalu, pada masa lalu semata?

 

Tidak!

 

Gadis-gadis telah menyimpan benihnya

Menyemai dan menyiraminya dalam kalbu

Dan di bawah lengkung langit, di seberang fajar

Seribu, sejuta lagi akan kembali mekar.

1993

 

MARSINAH

Jangan lupakan saya, jangan disobek

lembar sejarah yang bersimbah darah.

Saya mati dan makin dalam terkubur waktu,

namun ingat. Saya tak pernah menyerah.

 

Tak pernah mengalah. Karena tanpa perlawanan

hidup tanpa martabat. Tanpa keadilan

adakah yang bernama kemerdekaan? Kemerdekaan,

wahai kata yang terhapus dari teks proklamasi.

 

Jangan lupakan saya: Marsinah. Jadikan saya

tumbal bagi putra-putrimu, saudari-saudarimu

bahkan ibu-kandungmu, agar tak lagi

mereka boleh disiksa, diperkosa, dan dibunuh.

1997

 

PARTHENON

Sia-sia. Betapapun mata khayal mencoba

membangun kembali kemegahan kuil dari puing-puing ini,

perang dan gempa bumi menetapkan

bahwa abad-pualam para dewa telah pergi.

 

Pergi. Segala mambang jelita dan pangeran cendekia,

dengan kapal penghabisan telah angkat sauh

dari Laut Aegea ke Negeri Kenangan. Tinggal kita

terpencar-pencar di pantai waktu.

 

Mengembara mencari dewata baru, namun tak mampu

mempersembahkan iman kanak-kanak yang murni; tak mampu

mendirikan Parthenon baru, karena menolak setiap pilar

setiap penopang lain, kecuali tangan dan kaki sendiri.

1968

 

BANDUNG

1

Ada seribu satu alasan untuk meninggalkan rumah

: Padang terbuka di kaki langit atau biru laut

Gelombang demi gelombang membuka cakrawala.

Lalu kau pun berkata: Alangkah pengapnya kota!

 

Saatnya tiba menghapus resah dan masa lalu

: Menghapus kota dari peta hidupmu. Saatnya tiba

Melupakan batas-batas dan jadi warga dunia!

Tak ada kota, katamu, bumilah tempat tinggalku.

 

Sampai di suatu saat, di suatu tempat di tanah asing

Seseorang menyebut nama itu, nama kota itu

Bagai ujung belati suatu tusukan menembus ulu hati

Kau pun mengaduh dan mengerti arti kata rindu.

 

2

Para pengembara berkata: Kita ini warga kemanusiaan

Mengapa kau mengurung dirimu dalam sebuah kota?

Negeri-negeri sudah kehilangan batasnya dan langit

Dibentangkan bagi semua sayap, bagi semua harap.

 

Di negeri asing pun hutannya hijau dan senyum gadis

Sama-sama kesumba. Bentang layar yang lebih lebar

Julang anjung yang lebih akbar! Dermaga berjuluran

Dari segala pelabuhan, menjanjikan petualangan.

 

Tinggalkan kota dan masa lalu! Kata mereka. Tetapi

Kemarin akan terbawa dalam esok hari dan kau

Tak mungkin melarikan diri dari dirimu sendiri

Dari kota yang jalannya uratmu, udaranya nafasmu.

 

PERCAKAPAN DUA ORANG IBU

Sekuntum bunga liar, bapaknya angin lalu,

kaupetik dengan durinya, dengan durinya

Siapa mengusap lukamu nanti, darahmu nanti?

(Kenangnan manis, Bu, ‘kan menawarkan sakitku.)

 

Anak yang jatuh cinta bagaikan batu

jatuh ke dasar kali, lupakanlah

sebab ia lupa akan dirinya. Ah kepala batu

betapa keras, betapa dalam tenggelam.

 

Ya, biarkanlah dia pergi, namun bukalah pintu

dan nyalakan lampu di jendela. Siapa tahu

ia datang di malam buta, melepas sepatu dan masa lalu

dan lahir kembali anak lelakimu untuk kedua kali.

1977

 

SONETA MERAH JAMBU

Dua impian melayang di udara

bersatu dan memberat, lalu jatuh

di atas bumi, jatuh dan buyar

di atas batu.

 

Dua titik embun bergayut

di kuntum bunga yang sama

di pagi hari dunia

sebelum panas matahari melerainya

 

Keluh-kesah hanya angin pagi.

Air mata hanyalah embun, dan hati

adalah kuncup bunga.

 

Sekali ia harus berkembang

Setelah hari menciuminya

Setelah kelopaknya terluka.

1974

 

SEBUAH WAJAH

datang ia bagai fajar

naik di puncak setiap bukit

barapa pun bibir bunga diciumnya

adalah ciuman pertama

 

lalaki semampai bintang di matanya

meletakkan cinta di ujung lidah

lelaki coklat seruling di lehernya

mereguki hidup dari piala dusta

 

pergi ia bagai fajar

turun di kaki setiap bukit

berapa pun janji diucapkannya

adalah janji yang pertama

1960

 

RUMAH CERMIN

Sebuah rumah cermin dan kita terperangkap di dalamnya

Sosok dan wajah pecah bertabur dalam bingkai

dan warna beribu kaca. Janganlah bertanya

karena kata-kata pun berubah arti, layu bagai bunga.

 

Layu dan pucat bagai bibirmu, pada suatu kali:

walau kini satu-satunya bentuk yang dapat kuhayati

dalam kemayaan semesta, antara mimpi dan kenyataan:

dua kerajaan yang sama-sama menolak kehadiran kita.

 

Cetak-biru kemanusiaan telah lama dimakan bubuk

bersama buku dongeng kanak-kanak. Beginilah kita sekarang

wajah yang berebut bentuk dengan bayang-bayangnya

dalam rumah cermin, tempat kita terperangkap di dalamnya.

1971

 

RINDU

Kata-kata bermimpi tentang diri mereka sendiri

dan jadi lebih cantik, lebih berwarna-warni.

Sementara kita kusut tergesa, diburu waktu

dalam udara bergolak, cemar dan kelabu.

 

Di kantor, kelas, atau kafetaria yang sesak

saya menghirup wangi kata-kata: Cuma sejenak.

O gunjing politik, kuliah slogan, dan lelucon cabul!

Betapa kata-kata terbunuh dan layu di daun telinga

 

Pada suatu kali mungkin kita lolos dari sini.

Berbaring di suatu tempat, tertawa dan bercinta;

di antara kata-kata yang asyik bermimpi

tentang diri sendiri, dan jadi serumpun bunga.

1989

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here